RESENSI
Judul Buku:
The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (Biografi Gus Dur)
Penulis:
Greg Barton
Penerbit:
PT. LKiS Pelangi Aksara Jogjakarta
Edisi:
Cetakan VIII April 2008
Tebal:
xxviii + 516 Halaman
Memahami melalui Pohon Pemikiran Gus Dur
KONTROVERSIAL. Demikian kata yang pas untuk menggambarkan sosok seorang Abdurrahman Wahid. Gus Dur memang selalu menjadi pembicaraan. Selain karena pernyataan-pernyataannya yang menantang, sikapnya sering kontroversial. Belum lama ini publik dibuat terhenyak dengan ajakan golput dari mantan ketua umum PB NU tersebut sehubungan dengan diterimanya gugatan PKB versi Muhaimin Iskandar oleh Mahkamah Agung. Bagi sebagian kalangan yang ‘melek’ politik, ajakan golput mungkin hal yang biasa, karena itu adalah hak. Tetapi, ajakan itu dianggap sebagai sesuatu yang kontroversial karena yang menyerukan adalah seorang mantan Presiden RI.
Gus Dur kembali menyedot perhatian publik saat memberi tanggapan atas insiden Monas antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) versus Front Pembela Islam (FPI). Ketika itu, Gus Dur mengutuk aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh kelompok FPI tersebut. Statemen Gus Dur ini pun direaksi keras oleh Habib Rizieq, pimpinan FPI.
Dua hal di atas hanyalah satu di antara sekian banyak sikap Gus Dur yang oleh sebagian kalangan dianggap kontroversial. Pribadi yang kontroversial inilah yang menarik Greg Barton, seorang dosen senior pada Fakultas Seni Deakin University, Geelong, Victoria, Australia untuk meneliti sekaligus menuangkannya dalam bentuk buku biografi sosok ketua umum dewan syura DPP PKB tersebut.
Greg Barton mulai berkenalan dengan Gus Dur pada 1989. Ketika itu, Greg Barton masih menjadi mahasiswa pascasarjana yang canggung. Saat bertemu dengan Gus Dur, Greg Barton baru saja memulai menggarap disertasi doktor dengan mengamati (fenomena) Islam Liberal di Indonesia (halm. 4).
Sejak saat itu, Greg Barton mulai akrab dengan Gus Dur. Ilmuwan Negeri Kanguru ini pun mulai kenal luar dalam sosok Gus Dur. Sampai-sampai Greg Barton sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Gus Dur. Tak heran bila selama tujuh bulan, di antara 21 bulan masa pemerintahan Gus Dur (1999-2001), Greg Barton biasa keluar masuk ke Istana Negara untuk berdiskusi dengan cucu KH Hasyim Asy`ari, pendiri NU tersebut.
Buku yang kali pertama dicetak oleh LKiS Jogjakarta pada Juni 2003 tersebut berisi lima bagian besar. Bagian pertama, berisi tentang kehidupan Gus Dur selama di pesantren maupun di lingkungan keluarga. Bagian kedua, menceritakan terbentuknya seorang intelektual dari sosok Gus Dur. Pada bagian ini diungkapkan perjalanan studi Gus Dur d Kairo (Mesir), Baghdad (Irak), dan Eropa.
Bagian ketiga, membahas tentang Islam dan modernitas di Indonesia. Boleh dibilang, di bagian inilah petualangan Gus Dur dalam mengembangkan pluralisme di Indonesia dan dunia dimulai. Sedangkan bagian keempat, membeber soal masyarakat sipil dan Islam, yang dibagi menjadi dua bahasan; reformasi dan kontroversi, serta mendorong batas. Sementara bagian kelima mengungkap tentang politik, pembaruan, dan kepresidenan. Di bagian inilah Greg Barton mengeksplore peristiwa-peristiwa di balik kejatuhan rezim Gus Dur, yang mungkin belum pernah diangkat di ranah publik.
Bagi sebagian kalangan yang mengenal Gus Dur dengan baik, mungkin tidak terlalu aneh dengan sepak terjang dan kontroversinya. Gus Dur sejak muda memang suka bermain-main sedemikian rupa sehingga dia menjadi nakal dan ceroboh. Dalam banyak hal, dia menunjukkan kurangnya disiplin diri. Selama masa belajarnya dan kemudian dalam kehidupan profesionalnya, Gus Dur sering gagal mencapai apa yang sebenarnya dapat diraihnya, hanya karena tidak adanya disiplin diri atau perhatian yang terfokus.
Itu terlihat ketika Gus Dur menjadi presiden. Ada banyak keadaan, khususnya dalam membina koalisi dengan Megawati dan PDIP, yang memerlukan pemikiran strategis.
Dalam banyak hal Gus Dur menindaklanjutinya dengan suatu permainan taktik yang cemerlang, namun dengan perencanaan yang buruk. Hal itu terlihat ketika dia berhasil mengatasi secara cemerlang sidang tahunan MPR pada Agustus 2000.
Meski opini umum memperkirakan bahwa MPR akan mengeluarkan ketetapan yang mengurangi kekuasaan presiden, akhirnya Gus Dur bisa lolos tanpa kekurangan suatu apa. Sayangnya, dia tidak bisa menyusun kabinet yang memungkinkannya mengkonsolidasikan persekutuannya dengan Megawati dan PDIP (halm 488).
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang otoriter (salah satu contohnya, di PKB Gus Dur menjadi sosok yang superior dan nyaris tidak terjamah). Greg Barton mengungkapkan bahwa karakter ini bisa jadi terbentuk karena sisi kepribadian Gus Dur yang dominant. Gus Dur memiliki keyakinan yang kuat akan nasib. Sehingga, Gus Dur juga yakin bahwa dia harus melakukan hal-hal yang besar. Dalam perjalanan hidupnya, Gus Dur berada dalam suatu lingkungan dimana dia hampir tidak punya saingan dalam hal pengetahuan dan minat. Hasilnya, Gus Dur mempunyai kepercayaan diri yang sangat besar. Sehingga, banyak orang berpendapat bahwa besarnya kepercayaan diri itu bisa membahayakan dirinya sendiri (halm. 485).
Kendati cenderung ceroboh, kurang disiplin, kurang suka dengan hal-hal yang berbau formal, dan otoriter, ada sisi konsistensi dalam diri Gus Dur yang terus diperjuangkannya hingga saat ini. Nilai-nilai yang dikembangkan tersebut dikenal dengan sebutan Pohon Pemikiran Gus Dur yang mencakup tujuh tema pokok. Yakni, pandangan-dunia pesantren, pribumisasi Islam, keharusan demokrasi, finalitas negara-bangsa Pancasila, pluralisme agama, humanitarianisme universal, dan antropologi kiai.
Karena itu, tak heran kiranya Gus Dur begitu mati-matian membela AKKB yang menjadi korban kekerasan sekelompok massa yang mengatasnamakan Islam. Bagi Gus Dur, Islam tidak boleh dimaknai sebagai teks. Islam harus dimaknai sebagai nilai-nilai yang konteks agar membumi dalam kehidupan bermasyarakat. Gus Dur juga berada di garda terdepan kala membela Jaringan Islam Liberal (JIL) pimpinan Ulil Abshar Abdalla saat dianggap kafir dan menyimpang dari Islam oleh sejumlah kalangan, termasuk dari beberapa kiai NU. Bagi Gus Dur apa yang disuarakan oleh menantu KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Tersebut merupakan bagian dari pengejawantahan nilai-nilai dari pluralisme agama dan humanitarianime universal. Klop!.
Pandangan Gus Dur yang moderat ini diakui sendiri oleh Franz Magnis-Suseno. Dalam buku Beyond The Symbols, Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur terbitan Incres dan PT Remaja Rosdakarya Bandung (2000), Franz mengatakan, Gus Dur itu menghayati agama Islam secara sangat terbuka. Dia sosok pribadi yang bebas dari segala kepicikan, primordialistik, dan sektarian. Dia jelas 100 persen seorang yang beragama Islam. Tetapi, keislamannya begitu mantap sehingga dia tidak terancam oleh pluralitas.
Selain menceritakan kehidupan Gus Dur, di bagian akhir buku ini Greg Barton juga memberikan analisis tentang 12 sebab kejatuhan presiden RI keempat tersebut. Yakni, harapan yang terlalu besar, lawan-lawan yang kuat, masyarakat sipil yang lemah, pers yang dipenuhi oleh politik, dan kekurangan modal politik. Lalu, gerakan reformasi yang terbelah, kaum Islamis cenderung menjadi ujung tombak bagi oposisi, tidak adanya konstitusi yang demokratik, sikap bermusuhan aparatur negara, dan sistem hukum yang tidak berfungsi dengan baik. Serta, negara rente yang bekerja sama dengan kejahatan yang terorganisasi, dan militer yang melawan.
Jadi, buku karangan Greg Barton ini sangat menarik, layak untuk dibaca dan dikaji bagi kalangan aktivis mahasiswa maupun NGO (non government organization), akademisi, peneliti, politisi, santri, kaum nahdliyin, pegiat demokrasi dan pluralisme, serta masyarakat umum.
Selain karena buku setebal 516 halaman ini tergolong langka karena memuat biografi Gus Dur secara cukup lengkap, meski hanya sampai pada kejatuhan Gus Dur dari tampuk kekuasaan pada 2001, juga karena bahasa yang digunakan mudah dicerna, tidak perlu sampai mengerenyitkan dahi, serta ditulis secara objektif (tak bersifat pledoi/pembelaan). Akhirnya, Selamat membaca. (*)
Bawah Titian, 31 Juli 2008
Showing posts with label gus dur. Show all posts
Showing posts with label gus dur. Show all posts
Sunday, July 4, 2010
Wednesday, June 9, 2010
In Memoriam Gus Dur Wafat Pun Mengundang Tafsir
EMPAT puluh lima menit setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat di RSCM Jakarta, Rabu (30/12/2009) pukul 18.45, saya menerima banyak pesan pendek (SMS) dari berbagai kawan yang berisi ungkapan duka cita atas wafatnya guru bangsa itu. Namun, pesan pendek dari seorang kawan nahdliyin yang saya terima beberapa jam setelah Gus Dur dimakamkan di tempat pemakaman keluarga di kompleks Ponpes Tebu Ireng Jombang ini, benar-benar mengusik perhatian.
Bunyi pesan pendek yang masuk dalam telepon genggam saya itu adalah sebagai berikut:
Asmaul Husna ada 99, 9 adalah sebuah rahasia Allah, sebuah angka yang luar biasa rahasianya, penuh makna. Masya Allah, Gus Dur wafat pada jam 18, menit 45, tanggal 30, bulan 12, tahun 2009. Kalau diamati, semua angka tersebut jika dikalikan dengan angka itu sendiri jumlahnya adalah 9. 18x18=324=3+2+4=9. 45x45=2025=2+0+2+5 =9. 30x30=900=9+0+0=9. 12x12=144=1+4+4=9. 09x09=81=8+1=9. Kalau semua dikalikan, jumlahnya juga 9. 18x45x30x12x09=2624400=2+6+2+4+4+0+0=18=1+8= 9. Ada apa dengan jam 18.45? Masya Allah, lihat di Alquran pada surat ke 18 (QS Al Kahfi) ayat 45, diibaratkan air hujan yang turun dari langit dan memberi kesejukan (perdamaian) di bumi kemudian kembali lagi ke sisi Allah dengan kuasa-Nya.
***
Terlepas benar atau sekadar kebetulan, --meminjam istilah orang Jawa, othak athik gathuk, hampir semua orang menganggap bahwa Gus Dur adalah kontroversial dan misteri (rahasia). Bahkan Cak Nur (Nurcholish Madjid, pelopor modernisme Islam), yang juga telah berpulang ke rahmatullah pernah menilai, Gus Dus itu bukan lagi sekadar tokoh ”kontroversi”, namun ”kontroversi” itu sendiri. Ramalan Cak Nur, yang juga lahir di Jombang, benar. Gus Dur bukan lagi seorang koki, tapi hidangan itu sendiri. Siapapun bisa menghampiri dan menikmatinya.
Itu pula yang mendorong Greg Barton, seorang dosen senior pada Fakultas Seni Deakin University, Geelong, Victoria, Australia untuk meneliti, sekaligus menuangkannya dalam bentuk buku biografi yang berjudul The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (Biografi Gus Dur). Buku ini kali pertama dicetak oleh LKiS Jogjakarta pada Juni 2003.
Saya sendiri sangat menggemari dan melahap tulisan-tulisan tentang percikan pemikiran dan perenungan Gus Dur yang termaktub dalam berbagai buku-bukunya. Baik saat masih aktif di Forum Demokrasi dan LP3ES (1990), ketua umum PBNU (1984-1999), setelah dilengserkan dari kursi kepresidenan (Juli 2001), hingga sebelum wafat. Saya memang salah satu Gus Dur-ian. Saya menyukai tulisan dan buku-buku tentang Gus Dur, karena kesepakatan saya terhadap gerakan dan pemikirannya.
Sayangnya, dari buku-buku yang sudah diterbitkan, kebanyakan berupa kumpulan tulisan dan artikel Gus Dur yang bertebaran di media massa cetak nasional, termasuk di majalah Prisma. Hingga kini, saya belum menemukan buku ”utuh” tentang pemikiran Gus Dur, yang mengupasnya secara detail, berikut metodologisnya (saya berharap kelak Wahid Institute, lembaga nirlaba yang dibentuk oleh Gus Dur dan keluarganya, akan menyusun dan menerbitkan buku ”utuh” tersebut).
Mungkin ketika itu, Gus Dur sangat sibuk, karena begitu padatnya jadwal dan kegiatan yang harus dijalaninya. Ini sangat bisa dimaklumi mengingat Gus Dur bukan hanya tokoh komunal (ketua umum PBNU), tetapi juga universal (presiden dan tokoh dunia). Tetapi setidaknya, buku Beyond The Symbols, Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur terbitan Incres dan PT Remaja Rosdakarya Bandung (2000), cukuplah memberikan gambaran otak atik otak Gus Dur tersebut. Secara garis besar, ”pohon pemikiran” Gus Dur terdiri dari tujuh cabang pokok. Yakni, (1) pandangan-dunia pesantren, (2) pribumisasi Islam, (3) keharusan berdemokrasi, (4) finalitas negara-bangsa Pancasila, (5) pluralisme agama, (6) humanitarianisme universal, dan (7) antropologi kiai.
Pandangan Gus Dur yang moderat dan plural tersebut diakui oleh Franz Magnis-Suseno, teolog sekaligus sahabat tokoh kelahiran Jombang, Jawa Timur, tersebut. Menurut Franz,
Gus Dur itu menghayati agama Islam secara sangat terbuka. Dia adalah sosok pribadi yang bebas dari segala kepicikan, primordialistik, dan sektarian. Dia jelas 100 persen seorang yang beragama Islam. Tetapi, keislamannya begitu mantap sehingga dia tidak terancam oleh pluralitas.
Tujuh tema pokok tersebut selalu didengung-dengungkan Gus Dur, setiap kali menulis dan mendapati case yang tidak sesuai dengan ”pohon pemikiran”-nya. Inilah warisan dari Gus Dur yang tak hanya menjadi tanggung jawab nahdliyin untuk meneruskannya, tetapi juga kewajiban negara dan dunia. Pohon pemikiran Gus Dur itu sulit dibumikan dan akan selalu dianggap kontroversial, selama bangsa Indonesia belum menghargai perbedaan dan kemajemukan, baik dari sisi suku, agama, ras, dan antar golongan.
Selama perbedaan dan kemajemukan itu belum terealisasi, masyarakat akan menganggap Gus Dur tetap kontroversial dan misteri (penuh rahasia), sebagaimana ungkapan masyhur yang menggambarkan sikap Gus Dur saat masih sugeng. Yakni, ada empat misteri Tuhan di dunia ini, yaitu jodoh, rezeki, umur, dan... Gus Dur. Bahkan, hingga wafat pun, Gus Dur tetap diselubungi oleh rahasia-Nya, mengundang orang untuk menafsir, sebagaimana isi pesan pendek dari seorang kawan di awal esai ini. Sugeng kundur Gus, semoga kami bisa meneladani dan meneruskan semua perjuanganmu....
Bawah Titian, 1 Januari 2010
*) Tayang di Radar Bojonegoro, edisi 3 Januari 2010.
Bunyi pesan pendek yang masuk dalam telepon genggam saya itu adalah sebagai berikut:
Asmaul Husna ada 99, 9 adalah sebuah rahasia Allah, sebuah angka yang luar biasa rahasianya, penuh makna. Masya Allah, Gus Dur wafat pada jam 18, menit 45, tanggal 30, bulan 12, tahun 2009. Kalau diamati, semua angka tersebut jika dikalikan dengan angka itu sendiri jumlahnya adalah 9. 18x18=324=3+2+4=9. 45x45=2025=2+0+2+5 =9. 30x30=900=9+0+0=9. 12x12=144=1+4+4=9. 09x09=81=8+1=9. Kalau semua dikalikan, jumlahnya juga 9. 18x45x30x12x09=2624400=2+6+2+4+4+0+0=18=1+8= 9. Ada apa dengan jam 18.45? Masya Allah, lihat di Alquran pada surat ke 18 (QS Al Kahfi) ayat 45, diibaratkan air hujan yang turun dari langit dan memberi kesejukan (perdamaian) di bumi kemudian kembali lagi ke sisi Allah dengan kuasa-Nya.
***
Terlepas benar atau sekadar kebetulan, --meminjam istilah orang Jawa, othak athik gathuk, hampir semua orang menganggap bahwa Gus Dur adalah kontroversial dan misteri (rahasia). Bahkan Cak Nur (Nurcholish Madjid, pelopor modernisme Islam), yang juga telah berpulang ke rahmatullah pernah menilai, Gus Dus itu bukan lagi sekadar tokoh ”kontroversi”, namun ”kontroversi” itu sendiri. Ramalan Cak Nur, yang juga lahir di Jombang, benar. Gus Dur bukan lagi seorang koki, tapi hidangan itu sendiri. Siapapun bisa menghampiri dan menikmatinya.
Itu pula yang mendorong Greg Barton, seorang dosen senior pada Fakultas Seni Deakin University, Geelong, Victoria, Australia untuk meneliti, sekaligus menuangkannya dalam bentuk buku biografi yang berjudul The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (Biografi Gus Dur). Buku ini kali pertama dicetak oleh LKiS Jogjakarta pada Juni 2003.
Saya sendiri sangat menggemari dan melahap tulisan-tulisan tentang percikan pemikiran dan perenungan Gus Dur yang termaktub dalam berbagai buku-bukunya. Baik saat masih aktif di Forum Demokrasi dan LP3ES (1990), ketua umum PBNU (1984-1999), setelah dilengserkan dari kursi kepresidenan (Juli 2001), hingga sebelum wafat. Saya memang salah satu Gus Dur-ian. Saya menyukai tulisan dan buku-buku tentang Gus Dur, karena kesepakatan saya terhadap gerakan dan pemikirannya.
Sayangnya, dari buku-buku yang sudah diterbitkan, kebanyakan berupa kumpulan tulisan dan artikel Gus Dur yang bertebaran di media massa cetak nasional, termasuk di majalah Prisma. Hingga kini, saya belum menemukan buku ”utuh” tentang pemikiran Gus Dur, yang mengupasnya secara detail, berikut metodologisnya (saya berharap kelak Wahid Institute, lembaga nirlaba yang dibentuk oleh Gus Dur dan keluarganya, akan menyusun dan menerbitkan buku ”utuh” tersebut).
Mungkin ketika itu, Gus Dur sangat sibuk, karena begitu padatnya jadwal dan kegiatan yang harus dijalaninya. Ini sangat bisa dimaklumi mengingat Gus Dur bukan hanya tokoh komunal (ketua umum PBNU), tetapi juga universal (presiden dan tokoh dunia). Tetapi setidaknya, buku Beyond The Symbols, Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur terbitan Incres dan PT Remaja Rosdakarya Bandung (2000), cukuplah memberikan gambaran otak atik otak Gus Dur tersebut. Secara garis besar, ”pohon pemikiran” Gus Dur terdiri dari tujuh cabang pokok. Yakni, (1) pandangan-dunia pesantren, (2) pribumisasi Islam, (3) keharusan berdemokrasi, (4) finalitas negara-bangsa Pancasila, (5) pluralisme agama, (6) humanitarianisme universal, dan (7) antropologi kiai.
Pandangan Gus Dur yang moderat dan plural tersebut diakui oleh Franz Magnis-Suseno, teolog sekaligus sahabat tokoh kelahiran Jombang, Jawa Timur, tersebut. Menurut Franz,
Gus Dur itu menghayati agama Islam secara sangat terbuka. Dia adalah sosok pribadi yang bebas dari segala kepicikan, primordialistik, dan sektarian. Dia jelas 100 persen seorang yang beragama Islam. Tetapi, keislamannya begitu mantap sehingga dia tidak terancam oleh pluralitas.
Tujuh tema pokok tersebut selalu didengung-dengungkan Gus Dur, setiap kali menulis dan mendapati case yang tidak sesuai dengan ”pohon pemikiran”-nya. Inilah warisan dari Gus Dur yang tak hanya menjadi tanggung jawab nahdliyin untuk meneruskannya, tetapi juga kewajiban negara dan dunia. Pohon pemikiran Gus Dur itu sulit dibumikan dan akan selalu dianggap kontroversial, selama bangsa Indonesia belum menghargai perbedaan dan kemajemukan, baik dari sisi suku, agama, ras, dan antar golongan.
Selama perbedaan dan kemajemukan itu belum terealisasi, masyarakat akan menganggap Gus Dur tetap kontroversial dan misteri (penuh rahasia), sebagaimana ungkapan masyhur yang menggambarkan sikap Gus Dur saat masih sugeng. Yakni, ada empat misteri Tuhan di dunia ini, yaitu jodoh, rezeki, umur, dan... Gus Dur. Bahkan, hingga wafat pun, Gus Dur tetap diselubungi oleh rahasia-Nya, mengundang orang untuk menafsir, sebagaimana isi pesan pendek dari seorang kawan di awal esai ini. Sugeng kundur Gus, semoga kami bisa meneladani dan meneruskan semua perjuanganmu....
Bawah Titian, 1 Januari 2010
*) Tayang di Radar Bojonegoro, edisi 3 Januari 2010.
Subscribe to:
Posts (Atom)