Showing posts with label BUKU. Show all posts
Showing posts with label BUKU. Show all posts

Tuesday, August 24, 2010

Awali dari Membaca, Akhiri dengan Menulis

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman merupakan cermin diri dan realitas makro yang dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan tindakan dan perilaku di masa yang akan datang. Pengalaman pribadi (self experience) yang merentang panjang di masa lalu, juga merupakan identitas yang menentukan serta membentuk karakter seseorang di masa kemudian.
Dalam konteks berbagi pengalaman (share) pribadi itulah substansi tulisan dalam bulletin yang ada di tangan Anda saat ini. Semoga hal tersebut tidaklah termasuk dari apa yang dikategorikan Anita L. Vangelisti, Mark L. Knapp, dan John A. Daly, sebagai bagian dari teori conversational narcissism alias pengagungan diri. Tentu, sharing ini sarat muatan subjektivitas, --meski subjektif merupakan satu kesatuan menuju objektivitas, yang tidak sama dengan yang lainnya.
Bahwa, kecintaan terhadap baca membaca, di luar buku-buku teks pelajaran, mulai saya rasakan saat duduk di kelas 5 dan 6 SD. Secara jujur saya akui, buku-buku yang banyak penulis baca saat itu bukanlah buku sekelas Bobo, Kuncup, atau lainnya, meski saya juga membacanya, tetapi tidak begitu mainded. Ketika itu saya mulai mempunyai ketertarikan terhadap buku-buku cerita, dan dongeng bergambar yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah, di SDN I Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.
Dalam perkembangannya, khususnya saat menginjak bangku SMP, orientasi membaca sedikit bergeser. Dari yang semula buku-buku dongeng, beralih ke buku-buku komik dengan tokoh hero, tetapi tidak seperti tokoh Superman atau Batman, melainkan komik-komik yang bertema silat karya seniman-seniman lokal Indonesia. Sebutlah saja komik karya Jan Mintaraga. Pertimbangan waktu itu, membaca komik beserta visualisasinya, lebih mempunyai daya tarik. Belakangan (saat dewasa), baru menyadari bahwa membaca dengan meng-visualkan tulisan/cerita dalam otak dan pikiran, akan banyak membantu perkembangan otak kanan.
Perubahan orientasi membaca ini begitu dominan. Saya tidak hanya membaca buku-buku komik, melainkan juga buku-buku yang pada masa itu dianggap agak ”aneh” untuk anak seusia saya (sekali lagi semoga ini bukan narsistik). Saya masih ingat betul, ketika masih duduk di bangku kelas 2 dan 3 SMP, saya begitu menggilai buku-buku cerita silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo, penulis cerita silat/kungfu asal Solo, yang karyanya justru lebih banyak bercerita atau ber-setting sosiokultural daratan China.
Hingga sekarang pun, terkadang kerinduan untuk membaca kembali buku-buku karya Kho Ping Hoo, yang sekarang ini sudah berada di alam keabadian, masih begitu kuat mendesak. Terkadang, masih terbayang dalam benak bagaimana sepak terjang Suma Han, tokoh dalam Pendekar Pulau Es, atau Yo Han, tokoh dalam Pendekar Tangan Sakti. Atau buku-buku Kho Ping Hoo lainnya yang juga melegenda semacam Pendekar Bodoh, Pendekar Budiman, dan lainnya.
Bagi saya ketika itu, membaca Kho Ping Hoo, hanya mengasyikkan. Meski, dalam buku tersebut Kho Ping Hoo tak hanya menceritakan dunia persilatan, melainkan juga sering menyisipkan nilai-nilai filsafat dari setiap tema apapun yang sedang dibahasnya. Mulai bhakti antara guru (suhu), dengan murid tertua (suheng), maupun murid terakhir (sutee). Atau, ruang lingkup apapun yang menjadi tema sentral filsafat, yaitu Tuhan, manusia, dan alam, Kho Ping Hoo selalu menyertakan ”catatan kecil” dan serius yang menyelipi gambaran umum cerita silatnya.
Yang paling penulis ingat hingga sekarang, dalam setiap bukunya, Kho Ping Hoo selalu menggambarkan sosok pendekar itu tak hanya sebagai manusia yang tangguh membela diri, melainkan juga sosok yang terpelajar (mencintai baca dan tulis). Sebagai gambaran, Kho Ping Hoo hampir selalu mencitrakan tokoh utamanya tersebut sebagai manusia yang membawa pena (maopit), sastrawan, yang selain dapat dipakai untuk menulis, juga dapat digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan-lawannya.
Suatu ketika setelah dewasa, saya baru menyadari bacaan Kho Ping Hoo ternyata adalah tergolong bacaan ”berat” dan serius. Meski ditulis dengan bahasa yang sederhana, ringan, Kho Ping Hoo selalu menyelipkan pesan-pesan filosofis yang penuh dengan etika, logika, dan estetika yang merupakan komponen utama dalam keilmuan filsafat. Kho Ping Hoo juga memposisikan manusia terpelajar (cinta baca dan tulis) yang dimetaforakan dengan ciri selalu membawa maopit, sebagai sosok yang tangguh menghadapi setiap dinamika masyarakat. Kesan terhadap Kho Ping Hoo itu terbawa hingga dewasa. Meski buku-buku Kho Ping Hoo untuk sementara mulai ”ditinggalkan”, akan tetapi kesan itu sedemikian kuat terbawa dan terpatri dalam memori.

Hasil Dialektika
Menulis merupakan hasil dari dialektika antara membaca dan mengkaji/diskusi. Menulis adalah sintesis yang dihasilkan dari tesis (membaca) dan antitesis (ruang mengkaji) yang bergumul dalam diri dan benak. Orang yang mencintai membaca, pada umumnya akan merasakan dua hal. Yaitu, kepuasan batiniah, tercerahkan, karena mendapatkan stimuli wacana yang tidak diketahui sebelumnya. Dan yang kedua, sebaliknya, justru penasaran yang pada akhirnya melahirkan beragam pertanyaan, untuk menggali lebih jauh tentang makna dan nilai yang terkandung dalam buku/bacaan yang dilahap sebelumnya.
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh buku yang didarasnya. Buku hanya memberi dia bahan untuk bertanya, bukan bahan untuk menjawab. Di titik inilah ruang mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang semburat dalam otak harus menemukan ruang berbagi yang membebaskan pikiran dari keterbelengguan kepenasaranan dan beragam tanda tanya di benak yang bebas ide dan nilai. Ruang atau medium itu adalah diskusi/kajian.
Di sisi lain, hanya mengkaji tidaklah cukup untuk memuaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berjejaring di otak. Hasil dari mengkaji, dalam konteks tertentu hanya memuaskan stimuli kepenasaranan dari rasa belum tahu yang sebelumnya menjejal di dalam otak. Sementara, dorongan untuk ”menggugat” atas ketidakpuasan atas apa yang didapat di medium buku dan forum kajian belum tersalurkan. Hanya menulislah, dengan tema apapun, yang dapat menjembatani dan mengobati naluri menggugat dan berontak atas belenggu kebertanyaan itu.
Proses itu pulalah yang dirasakan secara pribadi oleh penulis selama bergulat dalam dunia tata kalimat/kata, istilah lain menulis, selama ini. Bahwa, membaca hanyalah satu awalan, dari sebuah proses panjang yang mesti harus dilalui untuk mencapai ”orgasme” intelektualitas. Jadi, awalilah dari membaca, berproseslah dalam forum kajian-kajian, dan akhiri naluri ”menggugat” dan ”pemberontakan” Anda melalui (saluran) menulis! (*)

Bawah Titian, 20 Mei 2010

*) Tayang di Sindikat Baca, Edisi Satu Tahun (Juli 2010)

Sunday, July 4, 2010

Vis a Vis Negara dan Buku

Dalam sepekan terakhir ini para pegiat dan pecita buku disibukkan dengan perang opini antara negara dengan George Junus Aditjondro, penulis buku Gurita Cikeas. Buku tulisan ilmuwan yang menetap di Australia itu menuai kontroversial, karena mengupas benang kusut aliran dana Bank Century yang diduga mengalir kepada Cikeas (Presiden SBY).
Ketegangan antara negara (kekuasaan) dengan buku di atas hanya satu di antara puluhan tamsil dari reaksi kekuasaan terhadap energi dahsyat buku.
Beberapa hari sebelumnya Kejaksaan Agung mengumumkan "fatwa haram" peredaran lima judul buku, karena dinilai mengganggu ketertiban umum. Kelima buku itu, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karangan John Roosa; Suara Gereja bagi Umat Tertindas, karya Socrates Sofyan Yoman; Lekra Tak Membakar Buku, karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan; Enam Jalan Menuju Tuhan, gubahan Darmawan M.M.; dan Mengungkap Misteri Keberagamaan Agama, karangan Syahrudin Ahmad. Keputusan Kejagung ini menuai kritikan dari berbagai kalangan. Kejagung menutup tahun 2009 dengan prestasi kurang membanggakan.
Fakta pemberangusan karya intelektual di atas semakin mempertebal kesimpulan bahwa negeri ini sedemikian represif dalam menyikapi gagasan-gagasan pemikiran. Sebelum ini, begitu banyak karya intelektual yang muncul tidak dilawan dengan iklim yang terhormat: tesis, antitesis, dan sintesa. Gagasan yang mencuat ke permukaan, tidak dilawan dengan menciptakan buku putih (tandingan/antitesis), melainkan dengan asal berangus, cekal, dan dilarang beredar.
Masih ingat dalam ingatan, pada 24 November 2008, Ketua DPR RI (ketika itu) Agung Laksono meminta Kejagung mencegah beredarnya buku yang berisi tudingan Adam Malik, mantan wakil presiden RI, sebagai agen CIA. Buku itu berjudul Legacy of Ashes, The History of CIA. Buku ini dibuat Tim Weiner, wartawan koran The New York Times. Weiner menceritakan sejarah CIA dan perannya dalam peristiwa politik internasional, termasuk di Indonesia pada 1965. Dalam buku itu juga dituliskan hubungan Soekarno dan PKI. Disebutkan, CIA memberikan US$ 10 ribu untuk mendukung peran serta Adam Malik memberantas Gerakan 30 September. Sejarawan LIPI Asvi Marwan Adam membenarkan adanya bantuan AS dan senjata. Alasannya, buku lain menyebut dana itu diserahkan lewat Adam Malik. Namun, itu tak berarti Adam Malik agen CIA.
Setahun sebelumnya, persisnya 10 Mei 2007, Kejari Ponorogo, Jawa Timur, merazia buku sejarah untuk SMP dan SMA yang dinilai mengaburkan fakta peristiwa Gerakan 30 September 1965. Buku sejarah yang diamankan adalah buku yang berisi tentang Gerakan 30 September tanpa disertai PKI. Kejari menilai ini mengaburkan fakta bahwa pelaku Gerakan 30 September adalah PKI. Salah satu buku yang ditarik adalah sejarah nasional karangan Wayan Badrika.
Vis a vis kejaksaan (Negara) dengan buku juga berlanjut pada 30 Juli 2007. Ketika itu,
Kejari Kota Bogor memusnahkan dan membakar 1.340 buku pelajaran sejarah untuk SMP kurikulum 2004 di depan gedung kejaksaan. Isi buku itu dinilai mengaburkan dan memutarbalikan sejarah sebenarnya. Pemusnahan buku itu didasarkan atas Keputusan Jaksa Agung RI No : KEP-019/A/JA/03/2007 tanggal 5 Maret 2007 tentang larangan beredar barang cetakan buku-buku Teks Pelajaran Sejarah SMP/Madrasah Tsanawiyah serta SMA, SMK dan Madrasah Aliyah yang mengacu kepada kurikulum 2004. Hal itu diperkuat oleh Instruksi Jaksa Agung RI Nomor INS-003/A/JA/03/2007 tanggal 5 Maret 2007 tentang tindakan pengamanan terhadap larangan beredar barang cetakan buku teks pelajaran sejarah.
Masih di tahun yang sama, tanggal 30 April 2007, Kejati Nusa Tenggara Timur menyita ratusan buku pelajaran SD sampai SMA di sejumlah toko buku di Kota Kupang. Buku-buku tersebut dinilai menyimpang dari fakta sejarah dan mengandung nilai-nilai ajaran Komunis, Marxisme, dan Leninisme.
Di tahun 2006, tak terdeteksi upaya pemberangusan buku. Namun, setahun sebelumnya, tepatnya 22 November 2005, Kejati Jawa Timur menyelidiki atlas bergambar bendera Bintang Kejora yang sering digunakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Bahkan, Kejati juga menyita 3.284 buku peta setebal 96 halaman itu dari berbagai toko buku di Surabaya dan perusahaan yang menerbitkan. Diduga, ada sekitar 2 ribuan atlas sejenis yang terlanjur beredar di sekolah-sekolah dan toko-toko buku. Untuk menarik kembali atlas-atlas tersebut, Kejati menerbitkan surat kerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional serta kepolisian agar segera merazia di tiap-tiap sekolah dan toko buku.
Apapun dalihnya, cara-cara preman yang diterapkan dalam menyikapi gagasan dan pemikiran melalui buku patut dikutuk. Sudah seharusnya Negara belajar menghormati kebebasan berpendapat dan berpikir yang dianugerahkan Tuhan. Kalaupun tidak sesuai dengan meanstream yang berkembang, bukan dengan cara represif seperti itu yang seharusnya dilakukan, melainkan dengan cara paralel seperti membuat buku putih atau menciptakan dialog kritis.
Sadar atau tidak sadar, cara-cara yang ditempuh Negara telah melanggar UU No 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Khususnya Bab III pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Bukankah memberangus pemikiran melalui cara-cara fasis itu sama halnya dengan menerapkan ideologi lain yang kita berangus? Berarti apa bedanya negara dengan mereka? (*)
Bawah Titian, 28 Desember 2009

Friday, July 2, 2010

Menulis, Mendidik Otak dan Tangan

BAGAIMANA cara mendidik hati, otak, dan tangan (HOT), istilah lain untuk menulis, yang baik? Apakah “dipaksa” alias by design atau dibiarkan mengalir, natural. Rasanya pertanyaan ini cukup susah dijawab. Karena, masing-masing mempunyai kelebihan. Tapi, bagi Arswendo Atmowiloto, budayawan yang ketika memimpin sebuah majalah pernah dibredel oleh rezim Orde Baru, bilang, bahwa menulis itu mudah, jangan dipaksa, dan biarkan mengalir apa adanya, alamiah. Di sisi lain, Gabriele Rico berpendapat, menulis adalah sebuah cara untuk meng-sistematika-kan karya. Oleh karena itu, perlu ada desain yang mempunyai daya ”paksa” agar dapat menghasilkan karya yang terkonstruk, berbasis nalar fakir, dan terukur.
Dua pendekatan yang berbeda ini melahirkan kutub yang esensinya mempunyai tujuan yang sama, meski secara luar terkesan berbeda. Cara mengalir dan alamiah, meminjam pendekatan dalam dunia keilmuan filsafat, lebih identik dengan pendekatan naturalistik kualitatif. Sedangkan by desaign mengarah kepada pendekatan positivistik kuantitatif.
Saya rasa, kita tidak perlu berdebat mana yang paling baik dari dua pendekatan tersebut. Karena, masing-masing orang mempunyai gaya menulis sendiri-sendiri. Bagi Gabriele Rico, menulis tetaplah perlu untuk dikerangkakan. Rico membuat dua model, metode pengelompokan (clustering) dan menulis cepat (fast writing). Clustering dapat dilakukan dengan cara memilih pemikiran-pemikiran yang saling berkaitan dan menuangkannya di kertas secepatnya, tanpa mempertimbangkan kebenaran atau nilainya.
Sementara fast writing, bertujuan melatih otak kanan yang kreatif, sekaligus membelajari otak kiri yang analitik dan korektif. Menulis cepat membantu kemampuan menulis kita untuk selalu berfikir cepat dan tepat dalam menyusun gagasan dan ide pada waktu yang telah ditentukan.
Model ini bisa dilatih dengan menentukan deadline bagi seseorang yang berniat untuk mendalami dunia tulis menulis. Konkretnya begini, untuk mengasah kemampuan dalam menulis, diperlukan pola pembiasaan. Pembiasaan salah satunya dapat dilakukan dengan cara ”memaksa” diri untuk secara teratur menulis dalam batasan-batasan waktu tertentu. Misalnya, meneguhkan komitmen dan tekad dalam diri untuk setiap dua minggu sekali menghasilkan satu karya tulisan yang terstruktur.
Konsekuensinya, komitmen ini harus dipegang dan direalisasikan (!). Efeknya, dengan kian sering menulis, logikanya kemampuan menulis akan semakin baik, semakin baik. Karena, dalam rentang waktu itulah seseorang akan mampu menilai apakah kemampuan tulisannya sudah baik atau belum. Sikap evaluatif itu pada akhirnya melahirkan refleksi yang diikuti dengan daya korektif terhadap tulisannya. Lama kelamaan tulisan itu akan menjadi baik, bukan?
Sedangkan metode menulis alamiah, justru menafikan sistem. Agak mirip-mirip dengan mengembangkan imajinasi, lepas, tanpa batas/sekat. Alasannya, menulis adalah sebuah komunikasi antara otak, hati, dan tangan. Ia harus bebas hambatan. Pesan (message) yang hendak disampaikan oleh otak, harus sampai ke tangan. Ia juga harus bebas nilai-nilai kepentingan sistem yang terkadang justru membatasi gerak sekaligus kebebasan di dalam menghasilkan sebuah karya.
Pendekatan naturalistik juga dipandang lebih merefleksikan hakikat keinginan manusia yang ingin bebas berekspresi. Logika sederhananya begini, kalau Anda ditekan, apakah Anda akan mampu menghasilkan karya yang baik? Sebab, terkadang manusia justru akan keluar segala daya imajinasinya, daya kreatifnya, dalam situasi nonformal, situasi tidak kaku, dan rileks.
By the way, mana yang kita pilih? Pendekatan naturalistik atau positivistik? Semua itu bergantung pada kesenangan kita masing-masing. Yang pasti, jangan takut salah! Lebih baik melakukan kesalahan, tetapi ada upaya dan kehendak untuk memperbaiki kesalahan. Daripada ingin selalu benar, tetapi tidak pernah mau melakukan sesuatu! Almaghfurlah Gus Dur bilang, negara ini dibentuk dan disusun dari kesalahan-kesalahan masa-masa lalu yang kemudian diperbaiki. So, tunggu apalagi! Ayo kita menulis, apakah by desaign atau secara natural? Suka-suka Anda! (*)

Bawah Titian, 30 April 2010

*) Tayang di Harian Jawa Pos Halaman 6, Rubrik Di Balik Buku Edisi 2 Mei 2010

Menulis Itu Menyehatkan

Adakah korelasi signifikan antara menulis dan kesehatan? Mungkin, sebagian orang akan mengatakan tak ada korelasinya, karena faktanya menulis dianggap pekerjaan yang rumit dan sulit. Sejauh ini, kajian atau penelitian ilmiah yang mencari benang merah atau titik temu hubungan antara menulis dan kesehatan, setidaknya belum pernah saya temui. Tetapi, pengalaman nyata berikut ini barangkali akan bisa memunculkan sebuah tesis, atau paling tidak sebuah hipotesa awal, bahwa menulis itu ternyata menyehatkan.
Tidak percaya? Simak kisah berikut ini. Anda mungkin mengenal nama Ferrasta Soebardi yang lebih kondang dengan panggilan Pepeng. Sosok yang melambung namanya lewat tayangan telekuis Jari-Jari? Pria kocak ini mengalami kelumpuhan mendadak dari pinggang hingga kaki. Penyakit misterius itu belakangan diketahui bernama multiple sclerosis (MS): sebuah penyakit yang sangat langka di Indonesia maupun Asia. Pepeng sempat tidak bisa menerima kondisinya, tetapi kini Pepeng malah menjadi tempat curhat penderita MS lainnya.
Pepeng memang pantang menyerah. Dia berjiwa baja dan tidak kenal putus asa. Meski sakit, dia masih melanjutkan studi S2 Psikologi di Universitas Indonesia. Hebatnya lagi, Pepeng juga tidak berhenti berkarya. Pepeng terus menuangkan ide-ide melalui laptop yang setia menemani hari-harinya di kamar tidur dan rumah sakit.
Bahkan, Pepeng menulis tiga buku sekaligus, yang berjudul Di Balik Jari-jari, Jika Anda Taubat di Tengah Jalan, dan Penyakit Pagi. Semuanya bercerita tentang hikmah pasang surut kehidupannya. ”Saya masih ingin berguna dan produktif, makanya tetap menulis. Saya manipulasi segala kekurangan menjadi kelebihan, dengan jalan penyakit ini saya teliti sendiri.” Demikian kata Pepeng. (kompas.com)
Dan anda tahu, sejak sering menulis, Pepeng seolah menemukan gairah hidup dan merasa ”sehat”. Meski, faktanya dia masih mengidap penyakit MS, serta masih rutin menjalani pengobatan. Namun, semangatnya untuk tak menyerah, dengan memeras otak, mengurai dan menata kata, membuatnya seperti sehat. Semangat itu pulalah yang mengantarkan Pepeng menjadi jujukan orang yang bernasib sama! Pepeng yang sakit malah menjelma menjadi inspirator!
Pengalaman Dahlan Iskan, mantan Chairman Jawa Pos Group yang kini menjadi Dirut PLN juga menjadi amtsal betapa dahsyatnya kekuatan menulis! Selang seminggu setelah menjani operasi transplantasi hati di Rumah Sakit Tianjin, Tiongkok, Dahlan Iskan sudah melanjutkan kebiasaan lamanya untuk menulis. Bahkan, jauh sebelum operasi tersebut dilakukan, Dahlan mengingat-ingat segala proses operasi di dalam memori otaknya, untuk dituangkan menjadi tulisan, kelak seminggu kemudian.
Sebagaimana dikutip dalam buku Ganti Hati, seminggu setelah operasi dilakukan, Dahlan sudah minta laptop. Dia memaksakan diri untuk memulai menuliskan palbagai pengalaman menjalani operasi. Sebagian agar tidak ada catatan di otaknya yang hilang, sebagian lagi untuk mengetes apakah masih bisa menulis atau tidak. Anda tahu, padahal tim dokter menyarankan agar selama beberapa minggu bahkan beberapa bulan setelah operasi hati, Dahlan diminta untuk jangan sampai kena virus (termasuk tak boleh pilek), agar hati barunya tidak sampai terkontaminasi. Namun toh Dahlan tetap menulis, karena dia yakin dengan menulis beban di otak akan berkurang dan dengan sendirinya akan mempercepat proses pemulihan (baca: kesembuhan dan sehat). Meski, hal tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati agar operasinya tidak gagal.
Membincang hubungan antara menulis dan kesehatan mengingatkan saya terhadap apa yang dikatakan Hermawan Kertajaya, pendiri sekaligus pengelola MarkPlus, lembaga konsultasi marketing, yang amat sangat kesohor tersebut. Hermawan bilang, otak manusia itu ibarat sebuah gudang (memori), yang akan menerima segala apapun informasi dan data untuk masuk. Oleh karena itu, kalau gudang sudah penuh, sebagian isinya harus dikeluarkan agar dapat diisi dengan perkakas atau barang yang lain.
Logikanya, ketika otak (memori) sudah penuh dengan berbagai ide dan gagasan yang mendesak dan meledak-ledak, tentu sudah saatnya sebagian dikeluarkan (dalam bentuk tulisan atau direalisasikan dalam bentuk aktivitas yang lain), bukan?. Kalau tidak, maka otak akan penuh, overload, fikiran pusing, dan tidak menutup kemungkinan malah akan menimbulkan sakit. Kalau sakit jelas tidak sehat.
Menulis juga merupakan sistem komunikasi yang mengsinergikan antara fikiran/otak (kanan, kiri, dan tengah), dengan tangan, serta hati. Semakin terbiasa seseorang menulis, semakin sinergis pula komunikasi antara otak dan tangannya. Ketika otak, tangan, serta organ tubuh yang lain sudah berkelindan, menyatu, dengan sendirinya akan menciptakan energi dan semangat yang positif. Dan ketika diri sudah terinjeksi dengan semangat dan energi positif, seseorang akan menjadi dinamis, optimistis, dan aktif. Jadi, saya pun berkeyakinan bahwa menulis adalah sarana untuk menyalurkan ”libido” ide dan gagasan yang mendesak dalam otak, dan jelas (sebuah terapi untuk) sehat! Tidak percaya? Menulislah, niscaya anda akan sehat! (*)

Bawah Titian, 22 Maret 2010

*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Edisi Rabu, 31 Maret 2010 Halaman 32