Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman merupakan cermin diri dan realitas makro yang dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan tindakan dan perilaku di masa yang akan datang. Pengalaman pribadi (self experience) yang merentang panjang di masa lalu, juga merupakan identitas yang menentukan serta membentuk karakter seseorang di masa kemudian.
Dalam konteks berbagi pengalaman (share) pribadi itulah substansi tulisan dalam bulletin yang ada di tangan Anda saat ini. Semoga hal tersebut tidaklah termasuk dari apa yang dikategorikan Anita L. Vangelisti, Mark L. Knapp, dan John A. Daly, sebagai bagian dari teori conversational narcissism alias pengagungan diri. Tentu, sharing ini sarat muatan subjektivitas, --meski subjektif merupakan satu kesatuan menuju objektivitas, yang tidak sama dengan yang lainnya.
Bahwa, kecintaan terhadap baca membaca, di luar buku-buku teks pelajaran, mulai saya rasakan saat duduk di kelas 5 dan 6 SD. Secara jujur saya akui, buku-buku yang banyak penulis baca saat itu bukanlah buku sekelas Bobo, Kuncup, atau lainnya, meski saya juga membacanya, tetapi tidak begitu mainded. Ketika itu saya mulai mempunyai ketertarikan terhadap buku-buku cerita, dan dongeng bergambar yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah, di SDN I Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.
Dalam perkembangannya, khususnya saat menginjak bangku SMP, orientasi membaca sedikit bergeser. Dari yang semula buku-buku dongeng, beralih ke buku-buku komik dengan tokoh hero, tetapi tidak seperti tokoh Superman atau Batman, melainkan komik-komik yang bertema silat karya seniman-seniman lokal Indonesia. Sebutlah saja komik karya Jan Mintaraga. Pertimbangan waktu itu, membaca komik beserta visualisasinya, lebih mempunyai daya tarik. Belakangan (saat dewasa), baru menyadari bahwa membaca dengan meng-visualkan tulisan/cerita dalam otak dan pikiran, akan banyak membantu perkembangan otak kanan.
Perubahan orientasi membaca ini begitu dominan. Saya tidak hanya membaca buku-buku komik, melainkan juga buku-buku yang pada masa itu dianggap agak ”aneh” untuk anak seusia saya (sekali lagi semoga ini bukan narsistik). Saya masih ingat betul, ketika masih duduk di bangku kelas 2 dan 3 SMP, saya begitu menggilai buku-buku cerita silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo, penulis cerita silat/kungfu asal Solo, yang karyanya justru lebih banyak bercerita atau ber-setting sosiokultural daratan China.
Hingga sekarang pun, terkadang kerinduan untuk membaca kembali buku-buku karya Kho Ping Hoo, yang sekarang ini sudah berada di alam keabadian, masih begitu kuat mendesak. Terkadang, masih terbayang dalam benak bagaimana sepak terjang Suma Han, tokoh dalam Pendekar Pulau Es, atau Yo Han, tokoh dalam Pendekar Tangan Sakti. Atau buku-buku Kho Ping Hoo lainnya yang juga melegenda semacam Pendekar Bodoh, Pendekar Budiman, dan lainnya.
Bagi saya ketika itu, membaca Kho Ping Hoo, hanya mengasyikkan. Meski, dalam buku tersebut Kho Ping Hoo tak hanya menceritakan dunia persilatan, melainkan juga sering menyisipkan nilai-nilai filsafat dari setiap tema apapun yang sedang dibahasnya. Mulai bhakti antara guru (suhu), dengan murid tertua (suheng), maupun murid terakhir (sutee). Atau, ruang lingkup apapun yang menjadi tema sentral filsafat, yaitu Tuhan, manusia, dan alam, Kho Ping Hoo selalu menyertakan ”catatan kecil” dan serius yang menyelipi gambaran umum cerita silatnya.
Yang paling penulis ingat hingga sekarang, dalam setiap bukunya, Kho Ping Hoo selalu menggambarkan sosok pendekar itu tak hanya sebagai manusia yang tangguh membela diri, melainkan juga sosok yang terpelajar (mencintai baca dan tulis). Sebagai gambaran, Kho Ping Hoo hampir selalu mencitrakan tokoh utamanya tersebut sebagai manusia yang membawa pena (maopit), sastrawan, yang selain dapat dipakai untuk menulis, juga dapat digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan-lawannya.
Suatu ketika setelah dewasa, saya baru menyadari bacaan Kho Ping Hoo ternyata adalah tergolong bacaan ”berat” dan serius. Meski ditulis dengan bahasa yang sederhana, ringan, Kho Ping Hoo selalu menyelipkan pesan-pesan filosofis yang penuh dengan etika, logika, dan estetika yang merupakan komponen utama dalam keilmuan filsafat. Kho Ping Hoo juga memposisikan manusia terpelajar (cinta baca dan tulis) yang dimetaforakan dengan ciri selalu membawa maopit, sebagai sosok yang tangguh menghadapi setiap dinamika masyarakat. Kesan terhadap Kho Ping Hoo itu terbawa hingga dewasa. Meski buku-buku Kho Ping Hoo untuk sementara mulai ”ditinggalkan”, akan tetapi kesan itu sedemikian kuat terbawa dan terpatri dalam memori.
Hasil Dialektika
Menulis merupakan hasil dari dialektika antara membaca dan mengkaji/diskusi. Menulis adalah sintesis yang dihasilkan dari tesis (membaca) dan antitesis (ruang mengkaji) yang bergumul dalam diri dan benak. Orang yang mencintai membaca, pada umumnya akan merasakan dua hal. Yaitu, kepuasan batiniah, tercerahkan, karena mendapatkan stimuli wacana yang tidak diketahui sebelumnya. Dan yang kedua, sebaliknya, justru penasaran yang pada akhirnya melahirkan beragam pertanyaan, untuk menggali lebih jauh tentang makna dan nilai yang terkandung dalam buku/bacaan yang dilahap sebelumnya.
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh buku yang didarasnya. Buku hanya memberi dia bahan untuk bertanya, bukan bahan untuk menjawab. Di titik inilah ruang mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang semburat dalam otak harus menemukan ruang berbagi yang membebaskan pikiran dari keterbelengguan kepenasaranan dan beragam tanda tanya di benak yang bebas ide dan nilai. Ruang atau medium itu adalah diskusi/kajian.
Di sisi lain, hanya mengkaji tidaklah cukup untuk memuaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berjejaring di otak. Hasil dari mengkaji, dalam konteks tertentu hanya memuaskan stimuli kepenasaranan dari rasa belum tahu yang sebelumnya menjejal di dalam otak. Sementara, dorongan untuk ”menggugat” atas ketidakpuasan atas apa yang didapat di medium buku dan forum kajian belum tersalurkan. Hanya menulislah, dengan tema apapun, yang dapat menjembatani dan mengobati naluri menggugat dan berontak atas belenggu kebertanyaan itu.
Proses itu pulalah yang dirasakan secara pribadi oleh penulis selama bergulat dalam dunia tata kalimat/kata, istilah lain menulis, selama ini. Bahwa, membaca hanyalah satu awalan, dari sebuah proses panjang yang mesti harus dilalui untuk mencapai ”orgasme” intelektualitas. Jadi, awalilah dari membaca, berproseslah dalam forum kajian-kajian, dan akhiri naluri ”menggugat” dan ”pemberontakan” Anda melalui (saluran) menulis! (*)
Bawah Titian, 20 Mei 2010
*) Tayang di Sindikat Baca, Edisi Satu Tahun (Juli 2010)
Showing posts with label INTELEKTUAL. Show all posts
Showing posts with label INTELEKTUAL. Show all posts
Tuesday, August 24, 2010
Sunday, July 4, 2010
Moksa Intelektual
Menulis (buku, artikel, novel, cerpen, esai, dan lainnya) adalah hasil dari dialektika, --meminjam terminologi Hegel, antara membaca dan mengkaji/diskusi. Menulis juga merupakan sebuah sintesis yang dihasilkan dari sebuah proses dari tesis (membaca) dan antitesis (ruang mengkaji) yang bergumul dalam diri dan benak.
Orang yang mencintai membaca, pada umumnya akan merasakan dua hal sekaligus yang berkelindan dalam dirinya. Yang pertama, kepuasan batiniah, tercerahkan, karena mendapatkan stimulus wacana yang belum (atau tidak) diketahui sebelumnya. Dan yang kedua, sebaliknya, justru rasa kepenasaranan yang melahirkan beragam pertanyaan, untuk menggali lebih jauh tentang makna dan nilai yang terkandung dalam buku/bacaan yang didaras sebelumnya.
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh buku yang didarasnya. Buku memang tidak hanya memberikan pembaca suatu wacana, pemahaman, atau juga pengetahuan (transfer knowledge), tetapi sekaligus ruang untuk bertanya, tetapi bukan ruang untuk menjawab. Di titik inilah ruang mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang semburat dalam otak harus menemukan medium untuk berbagi yang membebaskan pikiran dari keterbelengguan rasa kepenasaranan dan beragam tanda tanya dalam alam pikiran yang hakikinya bebas ide dan bebas nilai. Ruang atau medium itu adalah diskusi/kajian.
Dengan mengkaji, tidak sebatas dimaknai dalam forum, melainkan juga secara sosial melalui pengamatan (observasi) bersama, kita dapat membincang segala hal yang terkait dengan isi dan tema sebuah buku. Kajian dapat mengkanalisasikan pemikiran-pemikiran kontradiktif yang ada dalam benak untuk menemukan muaranya, meskipun dengan cara pandang/perspektif dari orang lain. Karena, bisa jadi cara pandang yang kita pahami akan berbeda dengan yang dipahami oleh orang lain. Ibaratnya, diskusi atau kajian merupakan ”anak-anak kali” yang saling terhubung antara satu dengan lainnya untuk menemukan ”sungai” yang lebih besar dan panjang.
Suatu misal, ketika membincang tentang buku yang menggambarkan sebuah gejala sosial tertentu, bisa jadi cara pandang kita lebih pada sosiokulturalnya. Akan tetapi, sejawat kita sangat mungkin melihatnya dalam perspektif yang berbeda, misalnya dari sudut pandang filsafat. Memang, tidak akan menemukan titik temu dalam jangka pendek. Namun, tema besar yang dikaji tetaplah sama, meski dengan cara pandang/pendekatan yang berbeda. Dari beragam pendekatan itulah pada akhirnya memberikan pemahaman secara holistik terhadap sebuah keberadaan teks (ontologis), metode (epistemologis), sekaligus nilai dan makna (aksiologis) dari sebuah buku.
Di sisi lain, hanya mengkaji tidaklah cukup untuk memuaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berjejaring di otak. Hasil dari mengkaji, dalam konteks tertentu hanya memuaskan stimulus kepenasaranan dari rasa belum tahu yang sebelumnya menjejal di dalam otak. Sementara, dorongan untuk ”menggugat” atas ketidakpuasan atas apa yang didapat di medium buku dan forum kajian belum tersalurkan.
Hanya menulislah yang dapat menjembatani sekaligus mengobati naluri ”menggugat” dan ”berontak” atas belenggu kebertanyaan. Dengan menulis, seseorang dapat menggugat teks-teks buku yang dirasa kurang relevan dengan perkembangan suatu zaman. Sekadar contoh, lahirnya buku Das Capital karya masterpiece Karl Marx, merupakan hasil dari perenungan dan ketidaksetujuannya terhadap konsepsi kapitalisme klasik yang diusung Adam Smith dan yang sedang berkembang di Eropa pada masa itu.
Terlepas apakah teori-teori politik maupun ekonomi yang diusung Karl Marx benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan pengaruh Marx. Arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran pendapatnya, tetapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah dapat menggerakkan orang untuk bertindak atau tidak. Diukur dari sudut tersebut, tidak perlu diragukan lagi bahwa Karl Marx punya arti penting yang luar biasa hebatnya dalam perkembangan madzhab filsafat, politik, dan ekonomi dunia.
Kita juga bisa mengkaca terhadap proses yang dilalui Pramoedya Ananta Toer, sastrawan asal Blora, Jawa Tengah, yang namanya begitu fenomenal karena mendapatkan begitu banyak penghargaan dari dunia, antara lain Ramon Magsaysay Award (1995), Unesco Madanjeet Singh Prize (1996), atas karya-karyanya. Pram, begitu gila baca. Sampai suatu ketika saat ribuan bukunya hilang, Pram begitu menyesalinya dan bilang ”lebih baik saya kehilangan rumah daripada kehilangan buku”!. Bagi Pram, buku bukanlah hanya sarana baca, tetapi sekaligus medium untuk bertanya, mengkaji, dan menggugat realitas sosial kontekstual yang menjadi daerah koloni (pada masa itu), dengan karya-karyanya.
Melalui membaca, mengkaji dan menulislah lahir karya-karya Pram, baik novel maupun roman sejarah yang fenomenal dan mengguncang dunia. Sebut saja Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), atau Tetralogi Arok Dedes, disusul Mata Pusaran (sempat hilang, lalu ditemukan dengan kondisi remuk dan cacat dan tersisa hanya halaman 232-362), serta Arus Balik, dan terakhir Mangir. Karya-karya itu ditulis Pram melalui proses dialektika: membaca, mengkaji referensi/realitas, dan menulis, meski sebagian di antaranya ditulis dalam suasana batiniah yang menyiksa karena dalam bui dan pengasingan (pembuangan)!
Proses itu juga dirasakan oleh banyak penulis dewasa ini. Sebut saja almarhum Gus Dur. Kumpulan artikelnya yang dihimpun dalam buku, antara lain Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (2007), atau Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (2006), adalah buah dari proses dialektika selama studi di Universitas Al Azhar Mesir, Baghdad, Irak, LP3ES Jakarta, atau selama di Forum Demokrasi (Fordem), PB NU, maupun saat menjabat sebagai presiden.
Jelaslah bahwa, membaca hanyalah satu awalan, proses panjang mesti harus dilalui untuk mencapai ”moksa” intelektualitas. Tanpa membaca, bagaimana mungkin mau mengkaji, apalagi menulis? Jadi, awalilah dari membaca, berproseslah dalam forum kajian-kajian, dan akhiri naluri ”menggugat” dan ”memberontak” Anda melalui (saluran) menulis! (*)
*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Halaman 30, Edisi 4 Juli 2010
Orang yang mencintai membaca, pada umumnya akan merasakan dua hal sekaligus yang berkelindan dalam dirinya. Yang pertama, kepuasan batiniah, tercerahkan, karena mendapatkan stimulus wacana yang belum (atau tidak) diketahui sebelumnya. Dan yang kedua, sebaliknya, justru rasa kepenasaranan yang melahirkan beragam pertanyaan, untuk menggali lebih jauh tentang makna dan nilai yang terkandung dalam buku/bacaan yang didaras sebelumnya.
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh buku yang didarasnya. Buku memang tidak hanya memberikan pembaca suatu wacana, pemahaman, atau juga pengetahuan (transfer knowledge), tetapi sekaligus ruang untuk bertanya, tetapi bukan ruang untuk menjawab. Di titik inilah ruang mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang semburat dalam otak harus menemukan medium untuk berbagi yang membebaskan pikiran dari keterbelengguan rasa kepenasaranan dan beragam tanda tanya dalam alam pikiran yang hakikinya bebas ide dan bebas nilai. Ruang atau medium itu adalah diskusi/kajian.
Dengan mengkaji, tidak sebatas dimaknai dalam forum, melainkan juga secara sosial melalui pengamatan (observasi) bersama, kita dapat membincang segala hal yang terkait dengan isi dan tema sebuah buku. Kajian dapat mengkanalisasikan pemikiran-pemikiran kontradiktif yang ada dalam benak untuk menemukan muaranya, meskipun dengan cara pandang/perspektif dari orang lain. Karena, bisa jadi cara pandang yang kita pahami akan berbeda dengan yang dipahami oleh orang lain. Ibaratnya, diskusi atau kajian merupakan ”anak-anak kali” yang saling terhubung antara satu dengan lainnya untuk menemukan ”sungai” yang lebih besar dan panjang.
Suatu misal, ketika membincang tentang buku yang menggambarkan sebuah gejala sosial tertentu, bisa jadi cara pandang kita lebih pada sosiokulturalnya. Akan tetapi, sejawat kita sangat mungkin melihatnya dalam perspektif yang berbeda, misalnya dari sudut pandang filsafat. Memang, tidak akan menemukan titik temu dalam jangka pendek. Namun, tema besar yang dikaji tetaplah sama, meski dengan cara pandang/pendekatan yang berbeda. Dari beragam pendekatan itulah pada akhirnya memberikan pemahaman secara holistik terhadap sebuah keberadaan teks (ontologis), metode (epistemologis), sekaligus nilai dan makna (aksiologis) dari sebuah buku.
Di sisi lain, hanya mengkaji tidaklah cukup untuk memuaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berjejaring di otak. Hasil dari mengkaji, dalam konteks tertentu hanya memuaskan stimulus kepenasaranan dari rasa belum tahu yang sebelumnya menjejal di dalam otak. Sementara, dorongan untuk ”menggugat” atas ketidakpuasan atas apa yang didapat di medium buku dan forum kajian belum tersalurkan.
Hanya menulislah yang dapat menjembatani sekaligus mengobati naluri ”menggugat” dan ”berontak” atas belenggu kebertanyaan. Dengan menulis, seseorang dapat menggugat teks-teks buku yang dirasa kurang relevan dengan perkembangan suatu zaman. Sekadar contoh, lahirnya buku Das Capital karya masterpiece Karl Marx, merupakan hasil dari perenungan dan ketidaksetujuannya terhadap konsepsi kapitalisme klasik yang diusung Adam Smith dan yang sedang berkembang di Eropa pada masa itu.
Terlepas apakah teori-teori politik maupun ekonomi yang diusung Karl Marx benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan pengaruh Marx. Arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran pendapatnya, tetapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah dapat menggerakkan orang untuk bertindak atau tidak. Diukur dari sudut tersebut, tidak perlu diragukan lagi bahwa Karl Marx punya arti penting yang luar biasa hebatnya dalam perkembangan madzhab filsafat, politik, dan ekonomi dunia.
Kita juga bisa mengkaca terhadap proses yang dilalui Pramoedya Ananta Toer, sastrawan asal Blora, Jawa Tengah, yang namanya begitu fenomenal karena mendapatkan begitu banyak penghargaan dari dunia, antara lain Ramon Magsaysay Award (1995), Unesco Madanjeet Singh Prize (1996), atas karya-karyanya. Pram, begitu gila baca. Sampai suatu ketika saat ribuan bukunya hilang, Pram begitu menyesalinya dan bilang ”lebih baik saya kehilangan rumah daripada kehilangan buku”!. Bagi Pram, buku bukanlah hanya sarana baca, tetapi sekaligus medium untuk bertanya, mengkaji, dan menggugat realitas sosial kontekstual yang menjadi daerah koloni (pada masa itu), dengan karya-karyanya.
Melalui membaca, mengkaji dan menulislah lahir karya-karya Pram, baik novel maupun roman sejarah yang fenomenal dan mengguncang dunia. Sebut saja Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), atau Tetralogi Arok Dedes, disusul Mata Pusaran (sempat hilang, lalu ditemukan dengan kondisi remuk dan cacat dan tersisa hanya halaman 232-362), serta Arus Balik, dan terakhir Mangir. Karya-karya itu ditulis Pram melalui proses dialektika: membaca, mengkaji referensi/realitas, dan menulis, meski sebagian di antaranya ditulis dalam suasana batiniah yang menyiksa karena dalam bui dan pengasingan (pembuangan)!
Proses itu juga dirasakan oleh banyak penulis dewasa ini. Sebut saja almarhum Gus Dur. Kumpulan artikelnya yang dihimpun dalam buku, antara lain Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (2007), atau Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (2006), adalah buah dari proses dialektika selama studi di Universitas Al Azhar Mesir, Baghdad, Irak, LP3ES Jakarta, atau selama di Forum Demokrasi (Fordem), PB NU, maupun saat menjabat sebagai presiden.
Jelaslah bahwa, membaca hanyalah satu awalan, proses panjang mesti harus dilalui untuk mencapai ”moksa” intelektualitas. Tanpa membaca, bagaimana mungkin mau mengkaji, apalagi menulis? Jadi, awalilah dari membaca, berproseslah dalam forum kajian-kajian, dan akhiri naluri ”menggugat” dan ”memberontak” Anda melalui (saluran) menulis! (*)
*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Halaman 30, Edisi 4 Juli 2010
Friday, July 2, 2010
Disparitas Intelektual
”Manusia boleh pandai setinggi langit, namun ketika dia tidak menulis,
dia akan hilang ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)
DALAM sebuah kesempatan diskusi, saya sempat ditanya oleh seorang kawan seberapa besar sumbangsih dari kalangan akademisi (intelektual kampus/perguruan tinggi) melalui tulisan yang menyorot dan memberi solusi sekaligus analisis atas berbagai permasalahan di masyarakat. Pertanyaan itu menggelitik saya untuk melakukan observasi/pengamatan terhadap artikel-artikel yang dimuat oleh sejumlah media massa cetak harian, baik skala nasional, regional, maupun lokal selama periode Januari dan Februari 2010. Media cetak itu adalah Harian Kompas, Jawa Pos, Jawa Pos Metropolis, Surya, dan Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group). Hasilnya, ada fakta mencengangkan yang menyimpulkan telah terjadi disparitas atau kesenjangan intelektual antara di kota besar dengan kota kelas menengah maupun kecil (pinggiran).
Dari 100 artikel yang terbit selama Januari (di luar edisi Minggu) yang dimuat di Kompas, 46 di antaranya atau 46 persen ditulis oleh penulis yang mengatasnamakan dari perguruan tinggi. Baik dalam kapasitas sebagai dosen, dekan, maupun guru besar. Posisi kedua dan ketiga ditempati organisasi masyarakat sipil (OMS) dengan 15 artikel (15 persen), serta perorangan 9 (9 persen). Di bulan Februari tulisan akademisi masih dominan, di kisaran 40 hingga 50 persen.
Dominasi tulisan dari perguruan tinggi juga terjadi pada Jawa Pos. Dari 37 artikel yang dimuat di halaman Opini selama Januari 2010, perguruan tinggi menyumbang 20 artikel (54 persen), disusul OMS 6 (16 persen), dan peneliti 3 (8 persen). Tren dominasi akademisi juga berlangsung di bulan Februari.
Perguruan tinggi juga menempati peringkat paling tinggi di Surya. Dari 21 artikel yang dimuat selama Januari, perguruan tinggi menyumbang 9 artikel (42 persen), OMS 5 (23 persen), dan mahasiswa 3 (14 persen). Begitu juga di bulan Februari, akademisi masih mayoritas. Di skala regional (Jawa Timur), dari 22 artikel di Jawa Pos Metropolis (Ruang Publik), perguruan tinggi menyumbang 7 artikel (31 persen), disusul OMS 4 (18 persen), dan mahasiswa 2 (9 persen). Tulisan akademisi juga dominan di bulan Februari.
Namun, fakta kontradiksi terjadi pada aras lokal. Dari 18 artikel yang dimuat selama Desember 2009 dan Januari 2010 (artikel tayang seminggu dua kali) di Harian Radar Bojonegoro, yang mencakup Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora, dominasi justru ada di kalangan OMS/LSM yang menyumbang 9 artikel (50 persen). Disusul perorangan 3 (16 persen), guru 2 (11 persen), politisi 1 (5 persen), mahasiswa 1 (5 persen), praktisi 1 (5 persen), dan dosen 1 (5 persen). Fakta serupa berlangsung pada Februari, artikel dari akademisi paling buncit: hanya sebuah (!), terbanyak tetap dari OMS.
Kalau kriteria di atas belum cukup dijadikan sebagai ukuran seberapa besar sumbangsih perguruan tinggi di Lamongan, Bojonegoro, Tuban, dan Blora, mari dilihat intensitas artikel dari kalangan akademisi yang masuk di redaksi koran ini. Selama tiga bulan ini, Desember 2009 hingga Januari dan Februari 2010, dari puluhan artikel yang masuk di redaksi, hanya dua hingga tiga artikel yang mengatasnamakan dari perguruan tinggi (!). Fakta serupa terjadi beberapa bulan sebelum periode Februari 2010 yang rata-rata tidak sampai lima artikel dari ratusan artikel yang masuk.
Betapa fakta ini amat berbalik 180 derajat dibandingkan dengan bertebarannya tulisan akademisi di kota-kota besar. Padahal, data di atas adalah tulisan kalangan akademisi yang tayang di media massa nasional dan regional. Belum lagi tulisan yang dinilai tidak layak muat dan ngendon di desk redaksi, tentu akan lebih banyak lagi bukan? Terlepas adanya perbedaan bentuk apresiasi atas dimuatnya tulisan antara di media nasional dengan koran ini, yang patut diperhatikan sumbangsih tulisan akademisi di aras lokal masih sangat minim.
Intelektual Organik
Pada dasarnya, semua orang mempunyai potensi menjadi intelektual, apalagi akademisi. Dalam pengertian ini, Antonio Gramsci (1891-1937), pemikir dari Italia, mengatakan, semua orang adalah intelektual. Namun, tidak semua orang punya fungsi intelektual di dalam masyarakat. (Nezar Patria dan Andi Arief, 1999:157). Gramsci membagi intelektual menjadi dua: intelektual organik dan intelektual tradisional.
Intelektual organik langsung berhubungan dengan cara produksi yang dominan. Artinya, seseorang, termasuk kalangan akademisi, dikatakan sebagai intelektual organik selama hubungan mereka dengan kelompok sosial tertentu mampu memberikan konstribusi nyata atas pelbagai problem realitas. Kelompok ini berpenetrasi sampai ke massa. Kesadaran menjalankan fungsi intelektual itu bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang sosial politik, budaya, dan lainnya.
Sedangkan intelektual tradisional adalah kaum intelektual yang menganggap dirinya ”independen”, otonom, dan terbungkus dalam karakter mereka sendiri. Menurut Gramsci,
intelektual tradisional terpolarisasi dan cukup ”abai” terhadap lingkungan sosialnya. Bahkan, dengan tegas dia mencontohkan filsuf dan artis termasuk bagian dari kelompok intelektual tradisional.
Mengacu definisi Gramsci, kalangan akademisi lebih cocok menjadi intelektual organik. Prasyarat untuk menjadi kelompok ideal ini sudah dipenuhi akademisi. Di dunia kampus, dikenal istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Manifestasi pengabdian masyarakat beragam, tidak melulu ditafsirkan dalam bentuk kuliah kerja nyata.
Tradisi Menulis
Mengurai dan memberikan jalan keluar melalui tulisan/analisa di media massa hakikinya merupakan bagian dari bentuk pengabdian masyarakat. Sayangnya, (mohon maaf) tradisi tersebut masih belum mengakar dan membumi di kalangan akademisi di Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan Blora. Minimnya konstribusi akademisi dalam menjawab problem realitas tersebut setidaknya karena tiga hal, berdasarkan pengakuan sejumlah akademisi itu sendiri.
Pertama, mereka cukup kesulitan merespons isu-isu eksternal yang terjadi di masyarakat. Banyaknya permasalahan yang terjadi di masyarakat dalam konteks tertentu membuat mereka kesulitan mencari, memilah, dan memilih isu mana yang paling dominan, serta
bisa menjadi prioritas untuk diangkat. Kepekaan memilah dan memilih isu hanya dapat
dilakukan dengan cara men-dialektika-kan kajian dan menulis.
Kedua, kreativitas dan kemampuan menulis yang belum terasah. Problem tersebut dapat ”dimaklumi” sekaligus memprihatinkan, karena sebagian di antara perguruan tinggi itu
belum mempunyai ruang aktualisasi. Ruang dan media seperti jurnal ilmiah masih jarang dijumpai. Memang, beberapa di antara puluhan perguruan tinggi di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Blora sudah ada yang mempunyai website, tapi space penuangan gagasan dan ide-ide tentang penguraian problem realitas masih jauh dari kata cukup. Dampaknya, kemampuan menulis kurang terasah.
Ketiga, terjebak rutinitas. Alasan ini sebenarnya tak terlalu krusial, karena pada dasarnya semua pengajar perguruan tinggi mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Akan tetapi, faktanya mayoritas dari mereka enggan menulis. Meskipun, basis menulis, dalam hal ini data, sudah mereka lakukan, misalnya sering mengadakan penelitian.
Disparitas intelektual antara kota-kota besar dengan kota pinggiran ini sudah seharusnya segera ditangani. Pembenahan internal (dari dalam) mendesak dilakukan oleh perguruan tinggi masing-masing. Memberikan ruang aktualisasi (jurnal) yang berlebih dan ditangani secara serius, merupakan opsi yang paling rasional dan relevan.
Sedangkan pembenahan dari eksternal (luar), menjadi tanggung jawab para pengampu kebijakan, semisal Kementerian Pendidikan Nasional, Dinas P dan K Jatim, dan pemkab masing-masing agar dapat mempercepat pematangan dan penciptaan intelektual organik ini dengan berbagai langkah strategis. Berbagai kegiatan yang berbasis capacity building (peningkatan kapasitas) mutlak dibutuhkan.
Langkah-langkah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak cara yang bisa dilakukan agar kampus di empat kabupaten tersebut dapat menjadi seperti yang diinginkan Pramoedya Ananta Toer, sebagaimana prolog artikel ini. Tanpa menulis (di buku maupun di media massa) manusia akan ditelan sejarah, sepintar apapun dia. Karena pada dasarnya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. (*)
Bawah Titian, 8 Maret 2010
*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Halaman 38 Edisi Minggu, 14 Maret 2010.
dia akan hilang ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)
DALAM sebuah kesempatan diskusi, saya sempat ditanya oleh seorang kawan seberapa besar sumbangsih dari kalangan akademisi (intelektual kampus/perguruan tinggi) melalui tulisan yang menyorot dan memberi solusi sekaligus analisis atas berbagai permasalahan di masyarakat. Pertanyaan itu menggelitik saya untuk melakukan observasi/pengamatan terhadap artikel-artikel yang dimuat oleh sejumlah media massa cetak harian, baik skala nasional, regional, maupun lokal selama periode Januari dan Februari 2010. Media cetak itu adalah Harian Kompas, Jawa Pos, Jawa Pos Metropolis, Surya, dan Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group). Hasilnya, ada fakta mencengangkan yang menyimpulkan telah terjadi disparitas atau kesenjangan intelektual antara di kota besar dengan kota kelas menengah maupun kecil (pinggiran).
Dari 100 artikel yang terbit selama Januari (di luar edisi Minggu) yang dimuat di Kompas, 46 di antaranya atau 46 persen ditulis oleh penulis yang mengatasnamakan dari perguruan tinggi. Baik dalam kapasitas sebagai dosen, dekan, maupun guru besar. Posisi kedua dan ketiga ditempati organisasi masyarakat sipil (OMS) dengan 15 artikel (15 persen), serta perorangan 9 (9 persen). Di bulan Februari tulisan akademisi masih dominan, di kisaran 40 hingga 50 persen.
Dominasi tulisan dari perguruan tinggi juga terjadi pada Jawa Pos. Dari 37 artikel yang dimuat di halaman Opini selama Januari 2010, perguruan tinggi menyumbang 20 artikel (54 persen), disusul OMS 6 (16 persen), dan peneliti 3 (8 persen). Tren dominasi akademisi juga berlangsung di bulan Februari.
Perguruan tinggi juga menempati peringkat paling tinggi di Surya. Dari 21 artikel yang dimuat selama Januari, perguruan tinggi menyumbang 9 artikel (42 persen), OMS 5 (23 persen), dan mahasiswa 3 (14 persen). Begitu juga di bulan Februari, akademisi masih mayoritas. Di skala regional (Jawa Timur), dari 22 artikel di Jawa Pos Metropolis (Ruang Publik), perguruan tinggi menyumbang 7 artikel (31 persen), disusul OMS 4 (18 persen), dan mahasiswa 2 (9 persen). Tulisan akademisi juga dominan di bulan Februari.
Namun, fakta kontradiksi terjadi pada aras lokal. Dari 18 artikel yang dimuat selama Desember 2009 dan Januari 2010 (artikel tayang seminggu dua kali) di Harian Radar Bojonegoro, yang mencakup Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora, dominasi justru ada di kalangan OMS/LSM yang menyumbang 9 artikel (50 persen). Disusul perorangan 3 (16 persen), guru 2 (11 persen), politisi 1 (5 persen), mahasiswa 1 (5 persen), praktisi 1 (5 persen), dan dosen 1 (5 persen). Fakta serupa berlangsung pada Februari, artikel dari akademisi paling buncit: hanya sebuah (!), terbanyak tetap dari OMS.
Kalau kriteria di atas belum cukup dijadikan sebagai ukuran seberapa besar sumbangsih perguruan tinggi di Lamongan, Bojonegoro, Tuban, dan Blora, mari dilihat intensitas artikel dari kalangan akademisi yang masuk di redaksi koran ini. Selama tiga bulan ini, Desember 2009 hingga Januari dan Februari 2010, dari puluhan artikel yang masuk di redaksi, hanya dua hingga tiga artikel yang mengatasnamakan dari perguruan tinggi (!). Fakta serupa terjadi beberapa bulan sebelum periode Februari 2010 yang rata-rata tidak sampai lima artikel dari ratusan artikel yang masuk.
Betapa fakta ini amat berbalik 180 derajat dibandingkan dengan bertebarannya tulisan akademisi di kota-kota besar. Padahal, data di atas adalah tulisan kalangan akademisi yang tayang di media massa nasional dan regional. Belum lagi tulisan yang dinilai tidak layak muat dan ngendon di desk redaksi, tentu akan lebih banyak lagi bukan? Terlepas adanya perbedaan bentuk apresiasi atas dimuatnya tulisan antara di media nasional dengan koran ini, yang patut diperhatikan sumbangsih tulisan akademisi di aras lokal masih sangat minim.
Intelektual Organik
Pada dasarnya, semua orang mempunyai potensi menjadi intelektual, apalagi akademisi. Dalam pengertian ini, Antonio Gramsci (1891-1937), pemikir dari Italia, mengatakan, semua orang adalah intelektual. Namun, tidak semua orang punya fungsi intelektual di dalam masyarakat. (Nezar Patria dan Andi Arief, 1999:157). Gramsci membagi intelektual menjadi dua: intelektual organik dan intelektual tradisional.
Intelektual organik langsung berhubungan dengan cara produksi yang dominan. Artinya, seseorang, termasuk kalangan akademisi, dikatakan sebagai intelektual organik selama hubungan mereka dengan kelompok sosial tertentu mampu memberikan konstribusi nyata atas pelbagai problem realitas. Kelompok ini berpenetrasi sampai ke massa. Kesadaran menjalankan fungsi intelektual itu bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang sosial politik, budaya, dan lainnya.
Sedangkan intelektual tradisional adalah kaum intelektual yang menganggap dirinya ”independen”, otonom, dan terbungkus dalam karakter mereka sendiri. Menurut Gramsci,
intelektual tradisional terpolarisasi dan cukup ”abai” terhadap lingkungan sosialnya. Bahkan, dengan tegas dia mencontohkan filsuf dan artis termasuk bagian dari kelompok intelektual tradisional.
Mengacu definisi Gramsci, kalangan akademisi lebih cocok menjadi intelektual organik. Prasyarat untuk menjadi kelompok ideal ini sudah dipenuhi akademisi. Di dunia kampus, dikenal istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Manifestasi pengabdian masyarakat beragam, tidak melulu ditafsirkan dalam bentuk kuliah kerja nyata.
Tradisi Menulis
Mengurai dan memberikan jalan keluar melalui tulisan/analisa di media massa hakikinya merupakan bagian dari bentuk pengabdian masyarakat. Sayangnya, (mohon maaf) tradisi tersebut masih belum mengakar dan membumi di kalangan akademisi di Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan Blora. Minimnya konstribusi akademisi dalam menjawab problem realitas tersebut setidaknya karena tiga hal, berdasarkan pengakuan sejumlah akademisi itu sendiri.
Pertama, mereka cukup kesulitan merespons isu-isu eksternal yang terjadi di masyarakat. Banyaknya permasalahan yang terjadi di masyarakat dalam konteks tertentu membuat mereka kesulitan mencari, memilah, dan memilih isu mana yang paling dominan, serta
bisa menjadi prioritas untuk diangkat. Kepekaan memilah dan memilih isu hanya dapat
dilakukan dengan cara men-dialektika-kan kajian dan menulis.
Kedua, kreativitas dan kemampuan menulis yang belum terasah. Problem tersebut dapat ”dimaklumi” sekaligus memprihatinkan, karena sebagian di antara perguruan tinggi itu
belum mempunyai ruang aktualisasi. Ruang dan media seperti jurnal ilmiah masih jarang dijumpai. Memang, beberapa di antara puluhan perguruan tinggi di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Blora sudah ada yang mempunyai website, tapi space penuangan gagasan dan ide-ide tentang penguraian problem realitas masih jauh dari kata cukup. Dampaknya, kemampuan menulis kurang terasah.
Ketiga, terjebak rutinitas. Alasan ini sebenarnya tak terlalu krusial, karena pada dasarnya semua pengajar perguruan tinggi mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Akan tetapi, faktanya mayoritas dari mereka enggan menulis. Meskipun, basis menulis, dalam hal ini data, sudah mereka lakukan, misalnya sering mengadakan penelitian.
Disparitas intelektual antara kota-kota besar dengan kota pinggiran ini sudah seharusnya segera ditangani. Pembenahan internal (dari dalam) mendesak dilakukan oleh perguruan tinggi masing-masing. Memberikan ruang aktualisasi (jurnal) yang berlebih dan ditangani secara serius, merupakan opsi yang paling rasional dan relevan.
Sedangkan pembenahan dari eksternal (luar), menjadi tanggung jawab para pengampu kebijakan, semisal Kementerian Pendidikan Nasional, Dinas P dan K Jatim, dan pemkab masing-masing agar dapat mempercepat pematangan dan penciptaan intelektual organik ini dengan berbagai langkah strategis. Berbagai kegiatan yang berbasis capacity building (peningkatan kapasitas) mutlak dibutuhkan.
Langkah-langkah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak cara yang bisa dilakukan agar kampus di empat kabupaten tersebut dapat menjadi seperti yang diinginkan Pramoedya Ananta Toer, sebagaimana prolog artikel ini. Tanpa menulis (di buku maupun di media massa) manusia akan ditelan sejarah, sepintar apapun dia. Karena pada dasarnya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. (*)
Bawah Titian, 8 Maret 2010
*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Halaman 38 Edisi Minggu, 14 Maret 2010.
Subscribe to:
Posts (Atom)