Showing posts with label MENULIS. Show all posts
Showing posts with label MENULIS. Show all posts

Wednesday, June 15, 2016

Catatan Reboan (1)

Yang Penting Menulis Dulu... 

Akhirnya semangat menulis itu datang kembali. Semua bermula saat Divisi Riset dan Teknologi Institute Development of Society (IDFoS) Indonesia mengadakan rapat, dua pekan lalu. Temanya, agak di luar meanstream. Dikatakan demikian, karena biasanya kebanyakan rapat yang dibahas mengagendakan diskusi, pelatihan, perencanaan program, atau menyusun desain riset.
Tapi ini kali tidak. Agenda yang dibahas tentang kesadaran gerakan menulis. Khususnya menulis di internal IDFoS. Berlaku untuk semua. Ya Pengurus, ya koordinator atau ketua divisi, staf divisi, hingga relawan atau volunteer.
Semula ada usulan tema yang dibahas dalam tulisan kudu yang serius. Namun, dinamika forum menghendaki lain. Dibiarkan cair saja. Sesuai dengan karakteristik si penulisnya. Dan, idealnya memang demikian, karena menulis itu membebaskan.  
Kalau memang cenderung serius dan style-nya memang seperti itu, silahkan. Nggak papa. Kalau justru sebaliknya, juga tidak dilarang. Karena, kata kunci yang harus disepakati saat itu adalah: Yang penting menulis dulu dan dibiasakan secara kontinyu.
Setelah disepakati gerakan ayo menulis, langkah selanjutnya adalah tentukan batas waktunya atau deadline. Karena, dalam hal-hal tertentu, deadline itu menjadi penting, sebagai pembatas agar seseorang mematuhi ketentuan yang sudah digariskan. Sebagai garis serius dan fokus pada beberapa hal. Termasuk memberi deadline menulis, sekalipun ia bukan penulis atau jurnalis.
Dook...! Jadilah pentingnya deadline sebagai keputusan kedua. Selanjutnya, disepakati pula, deadline-nya setiap minggu masing-masing divisi, di IDFoS ada empat, harus membuat satu tulisan. Bisa berupa opini, artikel, esai, kolom, features. Atau jika diperlukan tulisan yang sangat serius, semi jurnal maksudnya, tidak apa-apa. Asalkan konsisten dan fokus.
Yang penting bukan berita (news). Karena, domain itu sudah masuk dalam laman kegiatan di website IDFoS, www.idfos.or.id. Apalagi, tujuan gerakan menulis ini memang murni untuk mendorong bisa dan biasa menulis non-berita. Ya seperti yang tertera di atas itu. Keputusan ini pun juga disepakati.
Dook...! Jadilah model tulisannya disepakati bebas. Karena sebenarnya juga tak bebas-bebas amat. Mungkin yang paling pas diikat dengan longgar. Sebab, secara garis besar ada tiga hal yang akan ditulis nantinya. Yakni, opini, kolom, dan artikel.
Alasannya simpel, karena ketiga jenis tulisan inilah yang nantinya akan membentuk karakter masing-masing penulis. Sekalipun nanti jika memungkinkan, bisa ditambahi tulisan resensi buku.  
Deadline dan model tulisan sudah disepakati. Tinggal satu yang belum. Tema tulisannya apa? Semula ingin dibiarkan bebas. Namun toh pada akhirnya perlu pembatasan. Akhirnya, disetujuilah, temanya berbasis divisi masing-masing sebagai tema wajib. Sedangkan menulis dengan tema bebas (baca: hukumnya sunat), diperbolehkan, jika kewajiban menulis wajib sudah terpenuhi.
Di IDFoS ada empat divisi. Masing-masing, Divisi Riset dan Teknologi, Advokasi dan Lingkungan Hidup, Pemberdayaan Perempuan, dan Ekonomi Kerakyatan. Jadi, rasanya sudah lengkap tema yang mau diangkat menjadi tulisan.
Isi masing-masing divisi, penulis rasa, sudah menunjukkan ragam tema yang tidak akan habis untuk dikupas. Tinggal sekarang menunggu menunggu konsistensi melalui tulisan. Yang penting menulis dulu. 
***
Oo ya, sampai jadi lupa alasan kenapa muncul catatan ini. Sebenarnya, sudah sejak lama penulis ingin membuat tulisan secara kontinyu di laman website lembaga yang berdiri sejak 1999 ini. Namun, sepertinya momentumnya memang baru masuk saat ini. Saat kesadaran gerakan menulis sedang baik-baiknya, sedang semangat-semangatnya. Eman sekali kalau dilewatkan begitu saja.   
Tentang tema tulisan pada Catatan Reboan ini, tentu beragam aspek kehidupan. Sesekali, topik pembahasan akan diulas secara santai, mengalir, tapi tetap mengena. Khas kolom atau esai. Namun, tak jarang juga akan dibahas dengan gaya serius, khas opini, artikel, atau juga semi jurnal. 
Perihal nama kolom: Catatan Reboan, sengaja dipilih karena ada beragam alasan. Semula, penulis sempat mau menyiapkan nama Catatan Pinggir, tapi kok ya sama dengan kolom Goenawan Muhammad, sastrawan dan wartawan senior Tempo. Yang terbit setiap kali majalah Tempo terbit.
Terbayang juga diberi nama Catatan Pojok, namun rasanya masih belum pas. Lantas, muncul nama Kang Fiq Notes. Tapi terkesan 'pencitraan banget'. Hingga akhirnya muncullah Catatan Reboan. Rasanya lebih pas. Lebih elegan. Lebih nJawani. Dan ini yang paling penting, lebih Ngidfos banget!
Kenapa? Ingat Diskusi Reboan kan? Diskusi lintas sektoral, lintas tema yang digagas IDFoS tersebut sudah seperti menjadi trade mark atau brand image IDFoS. Sekalipun digunakan dimanapun, image-nya tetap di IDFoS.
Kira-kira seperti itu pula harapan Catatan Reboan ini. Harapannya ya rutin terbit atau ditayangkan, atau persisnya di-upload setiap hari Rabu. Kenapa hari Rabu? Selain melekat dengan image IDFoS, juga karena Rabu itu hari medium. Produktif. Tengah-tengah. Hari stabil. Karena, biasanya kita sudah melakukan banyak hal di awal pekan, dan mempersiapkan rencana kegiatan sebelum akhir pekan. Semua ya di hari Rabu itu.  
Dan ini, yang nyaris kelupaan, semangat Catatan Reboan itu semangat Reborn. Agak-agak miriplah antara Reboan dan Reborn. Tahu apa itu reborn? Kelahiran kembali. Termasuk kelahiran kembali ide, semangat, menulis, dan kerja-kerja pemberdayaan sosial. Jadi, tidak salah kiranya jika kita sebarkan virus Reboan, virus Reborn. Salam Reboan.... (*) 


Ujung Sersan Mulyono, 15 Juni 2016

*) Direktur IDFoS Indonesia. Ditayangkan di website IDFoS Indonesia (www.idfos.or.id)  

Tuesday, August 24, 2010

Awali dari Membaca, Akhiri dengan Menulis

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman merupakan cermin diri dan realitas makro yang dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan tindakan dan perilaku di masa yang akan datang. Pengalaman pribadi (self experience) yang merentang panjang di masa lalu, juga merupakan identitas yang menentukan serta membentuk karakter seseorang di masa kemudian.
Dalam konteks berbagi pengalaman (share) pribadi itulah substansi tulisan dalam bulletin yang ada di tangan Anda saat ini. Semoga hal tersebut tidaklah termasuk dari apa yang dikategorikan Anita L. Vangelisti, Mark L. Knapp, dan John A. Daly, sebagai bagian dari teori conversational narcissism alias pengagungan diri. Tentu, sharing ini sarat muatan subjektivitas, --meski subjektif merupakan satu kesatuan menuju objektivitas, yang tidak sama dengan yang lainnya.
Bahwa, kecintaan terhadap baca membaca, di luar buku-buku teks pelajaran, mulai saya rasakan saat duduk di kelas 5 dan 6 SD. Secara jujur saya akui, buku-buku yang banyak penulis baca saat itu bukanlah buku sekelas Bobo, Kuncup, atau lainnya, meski saya juga membacanya, tetapi tidak begitu mainded. Ketika itu saya mulai mempunyai ketertarikan terhadap buku-buku cerita, dan dongeng bergambar yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah, di SDN I Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.
Dalam perkembangannya, khususnya saat menginjak bangku SMP, orientasi membaca sedikit bergeser. Dari yang semula buku-buku dongeng, beralih ke buku-buku komik dengan tokoh hero, tetapi tidak seperti tokoh Superman atau Batman, melainkan komik-komik yang bertema silat karya seniman-seniman lokal Indonesia. Sebutlah saja komik karya Jan Mintaraga. Pertimbangan waktu itu, membaca komik beserta visualisasinya, lebih mempunyai daya tarik. Belakangan (saat dewasa), baru menyadari bahwa membaca dengan meng-visualkan tulisan/cerita dalam otak dan pikiran, akan banyak membantu perkembangan otak kanan.
Perubahan orientasi membaca ini begitu dominan. Saya tidak hanya membaca buku-buku komik, melainkan juga buku-buku yang pada masa itu dianggap agak ”aneh” untuk anak seusia saya (sekali lagi semoga ini bukan narsistik). Saya masih ingat betul, ketika masih duduk di bangku kelas 2 dan 3 SMP, saya begitu menggilai buku-buku cerita silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo, penulis cerita silat/kungfu asal Solo, yang karyanya justru lebih banyak bercerita atau ber-setting sosiokultural daratan China.
Hingga sekarang pun, terkadang kerinduan untuk membaca kembali buku-buku karya Kho Ping Hoo, yang sekarang ini sudah berada di alam keabadian, masih begitu kuat mendesak. Terkadang, masih terbayang dalam benak bagaimana sepak terjang Suma Han, tokoh dalam Pendekar Pulau Es, atau Yo Han, tokoh dalam Pendekar Tangan Sakti. Atau buku-buku Kho Ping Hoo lainnya yang juga melegenda semacam Pendekar Bodoh, Pendekar Budiman, dan lainnya.
Bagi saya ketika itu, membaca Kho Ping Hoo, hanya mengasyikkan. Meski, dalam buku tersebut Kho Ping Hoo tak hanya menceritakan dunia persilatan, melainkan juga sering menyisipkan nilai-nilai filsafat dari setiap tema apapun yang sedang dibahasnya. Mulai bhakti antara guru (suhu), dengan murid tertua (suheng), maupun murid terakhir (sutee). Atau, ruang lingkup apapun yang menjadi tema sentral filsafat, yaitu Tuhan, manusia, dan alam, Kho Ping Hoo selalu menyertakan ”catatan kecil” dan serius yang menyelipi gambaran umum cerita silatnya.
Yang paling penulis ingat hingga sekarang, dalam setiap bukunya, Kho Ping Hoo selalu menggambarkan sosok pendekar itu tak hanya sebagai manusia yang tangguh membela diri, melainkan juga sosok yang terpelajar (mencintai baca dan tulis). Sebagai gambaran, Kho Ping Hoo hampir selalu mencitrakan tokoh utamanya tersebut sebagai manusia yang membawa pena (maopit), sastrawan, yang selain dapat dipakai untuk menulis, juga dapat digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan-lawannya.
Suatu ketika setelah dewasa, saya baru menyadari bacaan Kho Ping Hoo ternyata adalah tergolong bacaan ”berat” dan serius. Meski ditulis dengan bahasa yang sederhana, ringan, Kho Ping Hoo selalu menyelipkan pesan-pesan filosofis yang penuh dengan etika, logika, dan estetika yang merupakan komponen utama dalam keilmuan filsafat. Kho Ping Hoo juga memposisikan manusia terpelajar (cinta baca dan tulis) yang dimetaforakan dengan ciri selalu membawa maopit, sebagai sosok yang tangguh menghadapi setiap dinamika masyarakat. Kesan terhadap Kho Ping Hoo itu terbawa hingga dewasa. Meski buku-buku Kho Ping Hoo untuk sementara mulai ”ditinggalkan”, akan tetapi kesan itu sedemikian kuat terbawa dan terpatri dalam memori.

Hasil Dialektika
Menulis merupakan hasil dari dialektika antara membaca dan mengkaji/diskusi. Menulis adalah sintesis yang dihasilkan dari tesis (membaca) dan antitesis (ruang mengkaji) yang bergumul dalam diri dan benak. Orang yang mencintai membaca, pada umumnya akan merasakan dua hal. Yaitu, kepuasan batiniah, tercerahkan, karena mendapatkan stimuli wacana yang tidak diketahui sebelumnya. Dan yang kedua, sebaliknya, justru penasaran yang pada akhirnya melahirkan beragam pertanyaan, untuk menggali lebih jauh tentang makna dan nilai yang terkandung dalam buku/bacaan yang dilahap sebelumnya.
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh buku yang didarasnya. Buku hanya memberi dia bahan untuk bertanya, bukan bahan untuk menjawab. Di titik inilah ruang mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang semburat dalam otak harus menemukan ruang berbagi yang membebaskan pikiran dari keterbelengguan kepenasaranan dan beragam tanda tanya di benak yang bebas ide dan nilai. Ruang atau medium itu adalah diskusi/kajian.
Di sisi lain, hanya mengkaji tidaklah cukup untuk memuaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berjejaring di otak. Hasil dari mengkaji, dalam konteks tertentu hanya memuaskan stimuli kepenasaranan dari rasa belum tahu yang sebelumnya menjejal di dalam otak. Sementara, dorongan untuk ”menggugat” atas ketidakpuasan atas apa yang didapat di medium buku dan forum kajian belum tersalurkan. Hanya menulislah, dengan tema apapun, yang dapat menjembatani dan mengobati naluri menggugat dan berontak atas belenggu kebertanyaan itu.
Proses itu pulalah yang dirasakan secara pribadi oleh penulis selama bergulat dalam dunia tata kalimat/kata, istilah lain menulis, selama ini. Bahwa, membaca hanyalah satu awalan, dari sebuah proses panjang yang mesti harus dilalui untuk mencapai ”orgasme” intelektualitas. Jadi, awalilah dari membaca, berproseslah dalam forum kajian-kajian, dan akhiri naluri ”menggugat” dan ”pemberontakan” Anda melalui (saluran) menulis! (*)

Bawah Titian, 20 Mei 2010

*) Tayang di Sindikat Baca, Edisi Satu Tahun (Juli 2010)

Sunday, July 4, 2010

Moksa Intelektual

Menulis (buku, artikel, novel, cerpen, esai, dan lainnya) adalah hasil dari dialektika, --meminjam terminologi Hegel, antara membaca dan mengkaji/diskusi. Menulis juga merupakan sebuah sintesis yang dihasilkan dari sebuah proses dari tesis (membaca) dan antitesis (ruang mengkaji) yang bergumul dalam diri dan benak.
Orang yang mencintai membaca, pada umumnya akan merasakan dua hal sekaligus yang berkelindan dalam dirinya. Yang pertama, kepuasan batiniah, tercerahkan, karena mendapatkan stimulus wacana yang belum (atau tidak) diketahui sebelumnya. Dan yang kedua, sebaliknya, justru rasa kepenasaranan yang melahirkan beragam pertanyaan, untuk menggali lebih jauh tentang makna dan nilai yang terkandung dalam buku/bacaan yang didaras sebelumnya.
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab oleh buku yang didarasnya. Buku memang tidak hanya memberikan pembaca suatu wacana, pemahaman, atau juga pengetahuan (transfer knowledge), tetapi sekaligus ruang untuk bertanya, tetapi bukan ruang untuk menjawab. Di titik inilah ruang mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang semburat dalam otak harus menemukan medium untuk berbagi yang membebaskan pikiran dari keterbelengguan rasa kepenasaranan dan beragam tanda tanya dalam alam pikiran yang hakikinya bebas ide dan bebas nilai. Ruang atau medium itu adalah diskusi/kajian.
Dengan mengkaji, tidak sebatas dimaknai dalam forum, melainkan juga secara sosial melalui pengamatan (observasi) bersama, kita dapat membincang segala hal yang terkait dengan isi dan tema sebuah buku. Kajian dapat mengkanalisasikan pemikiran-pemikiran kontradiktif yang ada dalam benak untuk menemukan muaranya, meskipun dengan cara pandang/perspektif dari orang lain. Karena, bisa jadi cara pandang yang kita pahami akan berbeda dengan yang dipahami oleh orang lain. Ibaratnya, diskusi atau kajian merupakan ”anak-anak kali” yang saling terhubung antara satu dengan lainnya untuk menemukan ”sungai” yang lebih besar dan panjang.
Suatu misal, ketika membincang tentang buku yang menggambarkan sebuah gejala sosial tertentu, bisa jadi cara pandang kita lebih pada sosiokulturalnya. Akan tetapi, sejawat kita sangat mungkin melihatnya dalam perspektif yang berbeda, misalnya dari sudut pandang filsafat. Memang, tidak akan menemukan titik temu dalam jangka pendek. Namun, tema besar yang dikaji tetaplah sama, meski dengan cara pandang/pendekatan yang berbeda. Dari beragam pendekatan itulah pada akhirnya memberikan pemahaman secara holistik terhadap sebuah keberadaan teks (ontologis), metode (epistemologis), sekaligus nilai dan makna (aksiologis) dari sebuah buku.
Di sisi lain, hanya mengkaji tidaklah cukup untuk memuaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berjejaring di otak. Hasil dari mengkaji, dalam konteks tertentu hanya memuaskan stimulus kepenasaranan dari rasa belum tahu yang sebelumnya menjejal di dalam otak. Sementara, dorongan untuk ”menggugat” atas ketidakpuasan atas apa yang didapat di medium buku dan forum kajian belum tersalurkan.
Hanya menulislah yang dapat menjembatani sekaligus mengobati naluri ”menggugat” dan ”berontak” atas belenggu kebertanyaan. Dengan menulis, seseorang dapat menggugat teks-teks buku yang dirasa kurang relevan dengan perkembangan suatu zaman. Sekadar contoh, lahirnya buku Das Capital karya masterpiece Karl Marx, merupakan hasil dari perenungan dan ketidaksetujuannya terhadap konsepsi kapitalisme klasik yang diusung Adam Smith dan yang sedang berkembang di Eropa pada masa itu.
Terlepas apakah teori-teori politik maupun ekonomi yang diusung Karl Marx benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan pengaruh Marx. Arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran pendapatnya, tetapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah dapat menggerakkan orang untuk bertindak atau tidak. Diukur dari sudut tersebut, tidak perlu diragukan lagi bahwa Karl Marx punya arti penting yang luar biasa hebatnya dalam perkembangan madzhab filsafat, politik, dan ekonomi dunia.
Kita juga bisa mengkaca terhadap proses yang dilalui Pramoedya Ananta Toer, sastrawan asal Blora, Jawa Tengah, yang namanya begitu fenomenal karena mendapatkan begitu banyak penghargaan dari dunia, antara lain Ramon Magsaysay Award (1995), Unesco Madanjeet Singh Prize (1996), atas karya-karyanya. Pram, begitu gila baca. Sampai suatu ketika saat ribuan bukunya hilang, Pram begitu menyesalinya dan bilang ”lebih baik saya kehilangan rumah daripada kehilangan buku”!. Bagi Pram, buku bukanlah hanya sarana baca, tetapi sekaligus medium untuk bertanya, mengkaji, dan menggugat realitas sosial kontekstual yang menjadi daerah koloni (pada masa itu), dengan karya-karyanya.
Melalui membaca, mengkaji dan menulislah lahir karya-karya Pram, baik novel maupun roman sejarah yang fenomenal dan mengguncang dunia. Sebut saja Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), atau Tetralogi Arok Dedes, disusul Mata Pusaran (sempat hilang, lalu ditemukan dengan kondisi remuk dan cacat dan tersisa hanya halaman 232-362), serta Arus Balik, dan terakhir Mangir. Karya-karya itu ditulis Pram melalui proses dialektika: membaca, mengkaji referensi/realitas, dan menulis, meski sebagian di antaranya ditulis dalam suasana batiniah yang menyiksa karena dalam bui dan pengasingan (pembuangan)!
Proses itu juga dirasakan oleh banyak penulis dewasa ini. Sebut saja almarhum Gus Dur. Kumpulan artikelnya yang dihimpun dalam buku, antara lain Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (2007), atau Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (2006), adalah buah dari proses dialektika selama studi di Universitas Al Azhar Mesir, Baghdad, Irak, LP3ES Jakarta, atau selama di Forum Demokrasi (Fordem), PB NU, maupun saat menjabat sebagai presiden.
Jelaslah bahwa, membaca hanyalah satu awalan, proses panjang mesti harus dilalui untuk mencapai ”moksa” intelektualitas. Tanpa membaca, bagaimana mungkin mau mengkaji, apalagi menulis? Jadi, awalilah dari membaca, berproseslah dalam forum kajian-kajian, dan akhiri naluri ”menggugat” dan ”memberontak” Anda melalui (saluran) menulis! (*)

*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Halaman 30, Edisi 4 Juli 2010

Friday, July 2, 2010

Menulis Itu ”Candu”?

Apa yang ada di benak Anda dengan judul tulisan kolom ini? Mungkin, Anda akan bilang tidak mungkin. Namun, saya yakin, sebagian dari Anda, bisa jadi akan membenarkannya, sepanjang dalam konteks yang positif. Sebab, kata candu, dalam pengertian logika umum dan meanstrem mayoritas, memang diidentikkan pada hal-hal yang berbau negatif, tiran, belenggu, mempunyai daya merusak tubuh, atau setidak-tidaknya, kurang baik.
Ambil contoh, kata ”candu” itu sendiri diidentikkan dengan zat yang memberi pengaruh tak baik dan mengganggu kesehatan tubuh manusia. Zat candu, dalam bentuk pengertian materiil, bisa diwujudkan dalam bentuk narkotika atau lainnya. Tetapi, penulis mencoba mengaitkan menulis itu sebagai ”candu” dalam konteks yang positif.
Anda mungkin pernah mendengar buku berjudul Sekolah Itu Candu, yang ditulis Roem Topatimasang, terbitan Insist Press. Buku itu sebagian besar menggambarkan pemikiran-pemikiran Paulo Freire, pemikir asal Brazil, atas kritiknya terhadap belenggu pendidikan (baca: sekolah) yang cenderung menciptakan pola komunikasi linier, bukan konvergen, dialogis. Pemikiran itu sebagai kritik dari Freire atas sistem pendidikan yang cenderung monologis, pedagogis, bukan berbentuk andragogis, yang membebaskan nalar berfikir peserta didik. Bukan pula pendidikan yang berbasis dogmatis, tetapi pendidikan alternatif yang berbasis pengalaman belajar. Kritik Freire digunakan untuk menyadarkan manusia agar pendidikan dikelola dengan menghormati nalar berfikir manusia yang bebas.
Atau, Anda mungkin juga sangat familier dengan aforisme Agama adalah Candu dari Masyarakat (It/religion is the opium of the people). Term ini dipopulerkan Karl Marx, penggagas marxisme/komunisme, pada era abad pertengahan Eropa. Term itu diungkap salah satu pentolan madzhab filsafat materialisme tersebut, sebagai kritik terhadap ”ketidakmampuan” agama dalam menjawab problem realitas sosial (khususnya buruh) yang berkembang ketika itu, sehingga buruh mengalami alienasi (tiadanya makna dalam diri individu/keterasingan).
Agama dianggap sebagai kekuatan hegemonik (mungkinkah ini masih terjadi di era sekarang?) untuk membelenggu realitas sosial. Penggunaan term Agama Itu Candu hanyalah sebagai manifestasi kritik Marx terhadap kemapanan agama yang dianggap hanya diam saja atas berbagai ketimpangan sosial.
Dalam konteks yang berbeda, menulis (mungkin?) juga dapat disebut sebagai ”candu” atau madat. Tetapi, tentu dalam pengertian yang jauh berbeda. Bukan candu sebenarnya yang memberikan efek negatif terhadap tubuh manusia. Melainkan, candu yang memberi efek nyandu/nagehi (Jawa: ingin selalu mengulang melakukan/merasakan) untuk selalu menulis atas apapun yang terjadi.

”Candu” yang Menyehatkan
Menurut Dr. James W. Pennebaker, peneliti dari Barat, bahwa upaya mengungkapkan segala pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kata-kata (melalui tulisan) dapat memengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang. Hasil penelitiannya menunjukkan, menulis itu menjernihkan pikiran, menulis dapat mengatasi rasa trauma, menulis membantu mendapat dan mengingat informasi baru, menulis dapat membantu memecahkan masalah, dan menulis-bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.
Logikanya begini, bagi penulis yang sudah bergulat intim dengan dunia tulis menulis, dia biasanya akan mengalami ”keterasingan” dari dalam otaknya, kalau tidak segera memulai mengguratkannya dalam bentuk tulisan. Sebab, dengan menulis, biasanya penulis akan menemukan rangkaian solusi dari problem-problem yang ada (ini sudah sering dirasakan dan dibuktikan oleh banyak orang) dari rangkaian kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang dituangkan di atas tuts komputer atau laptop.
Boleh percaya, boleh juga tidak, banyak orang bilang, solusi/gagasan seolah-olah muncul dengan sendirinya dalam sebuah proses menulis, meskipun sebelumnya solusi itu tidak pernah terlintas, apalagi terbayangkan sebelumnya dari dalam otak. Ketika diri sudah terstimulasi harapan (atau justru keyakinan) untuk selalu memunculkan gagasan/solusi baru atas berbagai permasalahan yang hendak diangkat, maka orang akan senantiasa mempunyai harapan yang sama untuk mengulanginya, setiap kali menulis.
Kecenderungannya, stimulus itu ingin selalu dirasakan secara berulang-ulang. Pada titik inilah bahwa term menulis itu ”candu” menemukan benang merahnya. Tetapi, (sekali lagi) dalam konteks yang positif dan menyehatkan. Jadi, daripada nyandu dengan zat aditif yang berefek buruk pada tubuh, kenapa tidak mencoba menemukan ”candu” dalam menulis? (*)

Bawah Titian, 6 Mei 2010
*) Tayang di Radar Bojonegoro Edisi 9 Mei 2010 Halaman 30

Menulis, Mendidik Otak dan Tangan

BAGAIMANA cara mendidik hati, otak, dan tangan (HOT), istilah lain untuk menulis, yang baik? Apakah “dipaksa” alias by design atau dibiarkan mengalir, natural. Rasanya pertanyaan ini cukup susah dijawab. Karena, masing-masing mempunyai kelebihan. Tapi, bagi Arswendo Atmowiloto, budayawan yang ketika memimpin sebuah majalah pernah dibredel oleh rezim Orde Baru, bilang, bahwa menulis itu mudah, jangan dipaksa, dan biarkan mengalir apa adanya, alamiah. Di sisi lain, Gabriele Rico berpendapat, menulis adalah sebuah cara untuk meng-sistematika-kan karya. Oleh karena itu, perlu ada desain yang mempunyai daya ”paksa” agar dapat menghasilkan karya yang terkonstruk, berbasis nalar fakir, dan terukur.
Dua pendekatan yang berbeda ini melahirkan kutub yang esensinya mempunyai tujuan yang sama, meski secara luar terkesan berbeda. Cara mengalir dan alamiah, meminjam pendekatan dalam dunia keilmuan filsafat, lebih identik dengan pendekatan naturalistik kualitatif. Sedangkan by desaign mengarah kepada pendekatan positivistik kuantitatif.
Saya rasa, kita tidak perlu berdebat mana yang paling baik dari dua pendekatan tersebut. Karena, masing-masing orang mempunyai gaya menulis sendiri-sendiri. Bagi Gabriele Rico, menulis tetaplah perlu untuk dikerangkakan. Rico membuat dua model, metode pengelompokan (clustering) dan menulis cepat (fast writing). Clustering dapat dilakukan dengan cara memilih pemikiran-pemikiran yang saling berkaitan dan menuangkannya di kertas secepatnya, tanpa mempertimbangkan kebenaran atau nilainya.
Sementara fast writing, bertujuan melatih otak kanan yang kreatif, sekaligus membelajari otak kiri yang analitik dan korektif. Menulis cepat membantu kemampuan menulis kita untuk selalu berfikir cepat dan tepat dalam menyusun gagasan dan ide pada waktu yang telah ditentukan.
Model ini bisa dilatih dengan menentukan deadline bagi seseorang yang berniat untuk mendalami dunia tulis menulis. Konkretnya begini, untuk mengasah kemampuan dalam menulis, diperlukan pola pembiasaan. Pembiasaan salah satunya dapat dilakukan dengan cara ”memaksa” diri untuk secara teratur menulis dalam batasan-batasan waktu tertentu. Misalnya, meneguhkan komitmen dan tekad dalam diri untuk setiap dua minggu sekali menghasilkan satu karya tulisan yang terstruktur.
Konsekuensinya, komitmen ini harus dipegang dan direalisasikan (!). Efeknya, dengan kian sering menulis, logikanya kemampuan menulis akan semakin baik, semakin baik. Karena, dalam rentang waktu itulah seseorang akan mampu menilai apakah kemampuan tulisannya sudah baik atau belum. Sikap evaluatif itu pada akhirnya melahirkan refleksi yang diikuti dengan daya korektif terhadap tulisannya. Lama kelamaan tulisan itu akan menjadi baik, bukan?
Sedangkan metode menulis alamiah, justru menafikan sistem. Agak mirip-mirip dengan mengembangkan imajinasi, lepas, tanpa batas/sekat. Alasannya, menulis adalah sebuah komunikasi antara otak, hati, dan tangan. Ia harus bebas hambatan. Pesan (message) yang hendak disampaikan oleh otak, harus sampai ke tangan. Ia juga harus bebas nilai-nilai kepentingan sistem yang terkadang justru membatasi gerak sekaligus kebebasan di dalam menghasilkan sebuah karya.
Pendekatan naturalistik juga dipandang lebih merefleksikan hakikat keinginan manusia yang ingin bebas berekspresi. Logika sederhananya begini, kalau Anda ditekan, apakah Anda akan mampu menghasilkan karya yang baik? Sebab, terkadang manusia justru akan keluar segala daya imajinasinya, daya kreatifnya, dalam situasi nonformal, situasi tidak kaku, dan rileks.
By the way, mana yang kita pilih? Pendekatan naturalistik atau positivistik? Semua itu bergantung pada kesenangan kita masing-masing. Yang pasti, jangan takut salah! Lebih baik melakukan kesalahan, tetapi ada upaya dan kehendak untuk memperbaiki kesalahan. Daripada ingin selalu benar, tetapi tidak pernah mau melakukan sesuatu! Almaghfurlah Gus Dur bilang, negara ini dibentuk dan disusun dari kesalahan-kesalahan masa-masa lalu yang kemudian diperbaiki. So, tunggu apalagi! Ayo kita menulis, apakah by desaign atau secara natural? Suka-suka Anda! (*)

Bawah Titian, 30 April 2010

*) Tayang di Harian Jawa Pos Halaman 6, Rubrik Di Balik Buku Edisi 2 Mei 2010

Menulis dan Waktu

SEORANG kawan pernah mengeluh kepada saya, kenapa tulisan-tulisan yang dia dikirim tidak pernah ditayangkan. Padahal, menurut keyakinan dia, tulisannya cukup baik, secara teknis memenuhi standar menulis artikel, content-nya aktual, serta membawa gagasan/ide dan analisis yang baru. Saya yakin, problem yang dialami kawan saya itu juga pernah Anda alami, khususnya yang menyukai dunia tulis menulis artikel.
Kebanyakan yang terjadi, begitu tulisannya tidak ditayangkan, rasa dongkol, kecewa, dan marah yang selalu dominan. Itu sesuatu yang alamiah dan manusiawi. Bahkan, tak jarang semangat yang dulunya membumbung, dengan harapan tulisannya dimuat, langsung sirna saat mendapati fakta karyanya tidak ditayangkan. Fatalnya lagi, kekecewaan tersebut tak jarang berujung keputusasaan: tak mau lagi menulis! Bagaimana sebaiknya menghadapi kenyataan seperti ini?
Prof Dr Jalaluddin Rakhmat, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti dikutip Abu Al-Ghifari dalam bukunya Kiat Menjadi Penulis Sukses mengatakan, di Barat pernah ada orang yang terus-menerus membuat artikel, tulisan, dan mengirimkannya kepada berbagai media massa cetak. Namun, tidak satu pun artikelnya yang dimuat.
Berhenti menuliskah dia? Ternyata tidak. Dia tetap saja terus menulis, seolah tidak lagi memedulikan penolakan itu. Hingga suatu hari, dia sudah mengirimkan artikelnya yang ke-1.501 (!). Ternyata, tulisannya ditayangkan di sebuah media ternama. Banyak orang terkagum-kagum membaca tulisannya. Akhirnya, ribuan tulisannya yang pernah ditolak diperbaiki dan dikirimkannya lagi. Alhasil, hampir semua tulisannya, pada akhirnya malah dimuat di media massa (!).
Coba Anda bayangkan, andai dia berhenti menulis di tulisan ke-100 saja, apa yang akan terjadi? Dia tak pernah sesukses sekarang, bukan? Abu Al-Ghifari pun berpesan, ”jangan pernah sekali-kali membuang artikel/tulisan sekalipun baru ditulis. Jadi, arsipkan semua. Hargailah karya sendiri. Menghargai karya, menghargai fikiran, dan ide. Menghargai fikiran, menghargai hidup dan kehidupan.
Keyakinan itu pula yang dipegang Margaret Hill, novelis dan penulis cerpen kelas dunia. Jauh sebelum karyanya dikenal dunia, Margaret pernah mengirimkan ratusan cerpen, dan semuanya ditolak media massa. Tetapi, sekali lagi, dia tidak patah arang. Dia menikmati ”penolakan” itu sebagai masukan positif untuk menulis, menulis, dan menulis. Hingga, cerpennya baru dimuat saat mencapai bilangan ke-122 kali (!). Kini, dia menjadi seorang penulis kelas dunia.
Kesimpulannya, hampir semua penulis kaliber, sebelum goresan penanya kita baca dan nikmati, pernah mengalami penolakan. Dan itu tidak hanya berlangsung sekali atau dua kali, bahkan sering. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak lantas putus asa, apalagi berhenti menulis, setiap kali mendapati kenyataan tulisannya tidak ditayangkan.
Saya terkadang berfikir, ada kalanya menulis memang harus penuh keikhlasan, dengan menyenangkan. Tidak terganggu oleh ambisi dan harapan dimuat, meski hal itu memang sulit! Saya berkeyakinan tayangnya tulisan hanya soal waktu. Saat seseorang menulis dengan ikhlas, kemampuan semakin terasah. Dan saat kemampuan menulis semakin baik, disitulah momennya tulisan akan dimuat!. Jadi, menulis adalah soal waktu. (*)

Bawah Titian, 5 April 2010

*) Tulisan ini tayang di Radar Bojonegoro Edisi 7 April 2010, Halaman 32

Menulis Itu Menyehatkan

Adakah korelasi signifikan antara menulis dan kesehatan? Mungkin, sebagian orang akan mengatakan tak ada korelasinya, karena faktanya menulis dianggap pekerjaan yang rumit dan sulit. Sejauh ini, kajian atau penelitian ilmiah yang mencari benang merah atau titik temu hubungan antara menulis dan kesehatan, setidaknya belum pernah saya temui. Tetapi, pengalaman nyata berikut ini barangkali akan bisa memunculkan sebuah tesis, atau paling tidak sebuah hipotesa awal, bahwa menulis itu ternyata menyehatkan.
Tidak percaya? Simak kisah berikut ini. Anda mungkin mengenal nama Ferrasta Soebardi yang lebih kondang dengan panggilan Pepeng. Sosok yang melambung namanya lewat tayangan telekuis Jari-Jari? Pria kocak ini mengalami kelumpuhan mendadak dari pinggang hingga kaki. Penyakit misterius itu belakangan diketahui bernama multiple sclerosis (MS): sebuah penyakit yang sangat langka di Indonesia maupun Asia. Pepeng sempat tidak bisa menerima kondisinya, tetapi kini Pepeng malah menjadi tempat curhat penderita MS lainnya.
Pepeng memang pantang menyerah. Dia berjiwa baja dan tidak kenal putus asa. Meski sakit, dia masih melanjutkan studi S2 Psikologi di Universitas Indonesia. Hebatnya lagi, Pepeng juga tidak berhenti berkarya. Pepeng terus menuangkan ide-ide melalui laptop yang setia menemani hari-harinya di kamar tidur dan rumah sakit.
Bahkan, Pepeng menulis tiga buku sekaligus, yang berjudul Di Balik Jari-jari, Jika Anda Taubat di Tengah Jalan, dan Penyakit Pagi. Semuanya bercerita tentang hikmah pasang surut kehidupannya. ”Saya masih ingin berguna dan produktif, makanya tetap menulis. Saya manipulasi segala kekurangan menjadi kelebihan, dengan jalan penyakit ini saya teliti sendiri.” Demikian kata Pepeng. (kompas.com)
Dan anda tahu, sejak sering menulis, Pepeng seolah menemukan gairah hidup dan merasa ”sehat”. Meski, faktanya dia masih mengidap penyakit MS, serta masih rutin menjalani pengobatan. Namun, semangatnya untuk tak menyerah, dengan memeras otak, mengurai dan menata kata, membuatnya seperti sehat. Semangat itu pulalah yang mengantarkan Pepeng menjadi jujukan orang yang bernasib sama! Pepeng yang sakit malah menjelma menjadi inspirator!
Pengalaman Dahlan Iskan, mantan Chairman Jawa Pos Group yang kini menjadi Dirut PLN juga menjadi amtsal betapa dahsyatnya kekuatan menulis! Selang seminggu setelah menjani operasi transplantasi hati di Rumah Sakit Tianjin, Tiongkok, Dahlan Iskan sudah melanjutkan kebiasaan lamanya untuk menulis. Bahkan, jauh sebelum operasi tersebut dilakukan, Dahlan mengingat-ingat segala proses operasi di dalam memori otaknya, untuk dituangkan menjadi tulisan, kelak seminggu kemudian.
Sebagaimana dikutip dalam buku Ganti Hati, seminggu setelah operasi dilakukan, Dahlan sudah minta laptop. Dia memaksakan diri untuk memulai menuliskan palbagai pengalaman menjalani operasi. Sebagian agar tidak ada catatan di otaknya yang hilang, sebagian lagi untuk mengetes apakah masih bisa menulis atau tidak. Anda tahu, padahal tim dokter menyarankan agar selama beberapa minggu bahkan beberapa bulan setelah operasi hati, Dahlan diminta untuk jangan sampai kena virus (termasuk tak boleh pilek), agar hati barunya tidak sampai terkontaminasi. Namun toh Dahlan tetap menulis, karena dia yakin dengan menulis beban di otak akan berkurang dan dengan sendirinya akan mempercepat proses pemulihan (baca: kesembuhan dan sehat). Meski, hal tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati agar operasinya tidak gagal.
Membincang hubungan antara menulis dan kesehatan mengingatkan saya terhadap apa yang dikatakan Hermawan Kertajaya, pendiri sekaligus pengelola MarkPlus, lembaga konsultasi marketing, yang amat sangat kesohor tersebut. Hermawan bilang, otak manusia itu ibarat sebuah gudang (memori), yang akan menerima segala apapun informasi dan data untuk masuk. Oleh karena itu, kalau gudang sudah penuh, sebagian isinya harus dikeluarkan agar dapat diisi dengan perkakas atau barang yang lain.
Logikanya, ketika otak (memori) sudah penuh dengan berbagai ide dan gagasan yang mendesak dan meledak-ledak, tentu sudah saatnya sebagian dikeluarkan (dalam bentuk tulisan atau direalisasikan dalam bentuk aktivitas yang lain), bukan?. Kalau tidak, maka otak akan penuh, overload, fikiran pusing, dan tidak menutup kemungkinan malah akan menimbulkan sakit. Kalau sakit jelas tidak sehat.
Menulis juga merupakan sistem komunikasi yang mengsinergikan antara fikiran/otak (kanan, kiri, dan tengah), dengan tangan, serta hati. Semakin terbiasa seseorang menulis, semakin sinergis pula komunikasi antara otak dan tangannya. Ketika otak, tangan, serta organ tubuh yang lain sudah berkelindan, menyatu, dengan sendirinya akan menciptakan energi dan semangat yang positif. Dan ketika diri sudah terinjeksi dengan semangat dan energi positif, seseorang akan menjadi dinamis, optimistis, dan aktif. Jadi, saya pun berkeyakinan bahwa menulis adalah sarana untuk menyalurkan ”libido” ide dan gagasan yang mendesak dalam otak, dan jelas (sebuah terapi untuk) sehat! Tidak percaya? Menulislah, niscaya anda akan sehat! (*)

Bawah Titian, 22 Maret 2010

*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Edisi Rabu, 31 Maret 2010 Halaman 32

Disparitas Intelektual

”Manusia boleh pandai setinggi langit, namun ketika dia tidak menulis,
dia akan hilang ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

DALAM sebuah kesempatan diskusi, saya sempat ditanya oleh seorang kawan seberapa besar sumbangsih dari kalangan akademisi (intelektual kampus/perguruan tinggi) melalui tulisan yang menyorot dan memberi solusi sekaligus analisis atas berbagai permasalahan di masyarakat. Pertanyaan itu menggelitik saya untuk melakukan observasi/pengamatan terhadap artikel-artikel yang dimuat oleh sejumlah media massa cetak harian, baik skala nasional, regional, maupun lokal selama periode Januari dan Februari 2010. Media cetak itu adalah Harian Kompas, Jawa Pos, Jawa Pos Metropolis, Surya, dan Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group). Hasilnya, ada fakta mencengangkan yang menyimpulkan telah terjadi disparitas atau kesenjangan intelektual antara di kota besar dengan kota kelas menengah maupun kecil (pinggiran).
Dari 100 artikel yang terbit selama Januari (di luar edisi Minggu) yang dimuat di Kompas, 46 di antaranya atau 46 persen ditulis oleh penulis yang mengatasnamakan dari perguruan tinggi. Baik dalam kapasitas sebagai dosen, dekan, maupun guru besar. Posisi kedua dan ketiga ditempati organisasi masyarakat sipil (OMS) dengan 15 artikel (15 persen), serta perorangan 9 (9 persen). Di bulan Februari tulisan akademisi masih dominan, di kisaran 40 hingga 50 persen.
Dominasi tulisan dari perguruan tinggi juga terjadi pada Jawa Pos. Dari 37 artikel yang dimuat di halaman Opini selama Januari 2010, perguruan tinggi menyumbang 20 artikel (54 persen), disusul OMS 6 (16 persen), dan peneliti 3 (8 persen). Tren dominasi akademisi juga berlangsung di bulan Februari.
Perguruan tinggi juga menempati peringkat paling tinggi di Surya. Dari 21 artikel yang dimuat selama Januari, perguruan tinggi menyumbang 9 artikel (42 persen), OMS 5 (23 persen), dan mahasiswa 3 (14 persen). Begitu juga di bulan Februari, akademisi masih mayoritas. Di skala regional (Jawa Timur), dari 22 artikel di Jawa Pos Metropolis (Ruang Publik), perguruan tinggi menyumbang 7 artikel (31 persen), disusul OMS 4 (18 persen), dan mahasiswa 2 (9 persen). Tulisan akademisi juga dominan di bulan Februari.
Namun, fakta kontradiksi terjadi pada aras lokal. Dari 18 artikel yang dimuat selama Desember 2009 dan Januari 2010 (artikel tayang seminggu dua kali) di Harian Radar Bojonegoro, yang mencakup Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora, dominasi justru ada di kalangan OMS/LSM yang menyumbang 9 artikel (50 persen). Disusul perorangan 3 (16 persen), guru 2 (11 persen), politisi 1 (5 persen), mahasiswa 1 (5 persen), praktisi 1 (5 persen), dan dosen 1 (5 persen). Fakta serupa berlangsung pada Februari, artikel dari akademisi paling buncit: hanya sebuah (!), terbanyak tetap dari OMS.
Kalau kriteria di atas belum cukup dijadikan sebagai ukuran seberapa besar sumbangsih perguruan tinggi di Lamongan, Bojonegoro, Tuban, dan Blora, mari dilihat intensitas artikel dari kalangan akademisi yang masuk di redaksi koran ini. Selama tiga bulan ini, Desember 2009 hingga Januari dan Februari 2010, dari puluhan artikel yang masuk di redaksi, hanya dua hingga tiga artikel yang mengatasnamakan dari perguruan tinggi (!). Fakta serupa terjadi beberapa bulan sebelum periode Februari 2010 yang rata-rata tidak sampai lima artikel dari ratusan artikel yang masuk.
Betapa fakta ini amat berbalik 180 derajat dibandingkan dengan bertebarannya tulisan akademisi di kota-kota besar. Padahal, data di atas adalah tulisan kalangan akademisi yang tayang di media massa nasional dan regional. Belum lagi tulisan yang dinilai tidak layak muat dan ngendon di desk redaksi, tentu akan lebih banyak lagi bukan? Terlepas adanya perbedaan bentuk apresiasi atas dimuatnya tulisan antara di media nasional dengan koran ini, yang patut diperhatikan sumbangsih tulisan akademisi di aras lokal masih sangat minim.

Intelektual Organik
Pada dasarnya, semua orang mempunyai potensi menjadi intelektual, apalagi akademisi. Dalam pengertian ini, Antonio Gramsci (1891-1937), pemikir dari Italia, mengatakan, semua orang adalah intelektual. Namun, tidak semua orang punya fungsi intelektual di dalam masyarakat. (Nezar Patria dan Andi Arief, 1999:157). Gramsci membagi intelektual menjadi dua: intelektual organik dan intelektual tradisional.
Intelektual organik langsung berhubungan dengan cara produksi yang dominan. Artinya, seseorang, termasuk kalangan akademisi, dikatakan sebagai intelektual organik selama hubungan mereka dengan kelompok sosial tertentu mampu memberikan konstribusi nyata atas pelbagai problem realitas. Kelompok ini berpenetrasi sampai ke massa. Kesadaran menjalankan fungsi intelektual itu bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang sosial politik, budaya, dan lainnya.
Sedangkan intelektual tradisional adalah kaum intelektual yang menganggap dirinya ”independen”, otonom, dan terbungkus dalam karakter mereka sendiri. Menurut Gramsci,
intelektual tradisional terpolarisasi dan cukup ”abai” terhadap lingkungan sosialnya. Bahkan, dengan tegas dia mencontohkan filsuf dan artis termasuk bagian dari kelompok intelektual tradisional.
Mengacu definisi Gramsci, kalangan akademisi lebih cocok menjadi intelektual organik. Prasyarat untuk menjadi kelompok ideal ini sudah dipenuhi akademisi. Di dunia kampus, dikenal istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Manifestasi pengabdian masyarakat beragam, tidak melulu ditafsirkan dalam bentuk kuliah kerja nyata.

Tradisi Menulis
Mengurai dan memberikan jalan keluar melalui tulisan/analisa di media massa hakikinya merupakan bagian dari bentuk pengabdian masyarakat. Sayangnya, (mohon maaf) tradisi tersebut masih belum mengakar dan membumi di kalangan akademisi di Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan Blora. Minimnya konstribusi akademisi dalam menjawab problem realitas tersebut setidaknya karena tiga hal, berdasarkan pengakuan sejumlah akademisi itu sendiri.
Pertama, mereka cukup kesulitan merespons isu-isu eksternal yang terjadi di masyarakat. Banyaknya permasalahan yang terjadi di masyarakat dalam konteks tertentu membuat mereka kesulitan mencari, memilah, dan memilih isu mana yang paling dominan, serta
bisa menjadi prioritas untuk diangkat. Kepekaan memilah dan memilih isu hanya dapat
dilakukan dengan cara men-dialektika-kan kajian dan menulis.
Kedua, kreativitas dan kemampuan menulis yang belum terasah. Problem tersebut dapat ”dimaklumi” sekaligus memprihatinkan, karena sebagian di antara perguruan tinggi itu
belum mempunyai ruang aktualisasi. Ruang dan media seperti jurnal ilmiah masih jarang dijumpai. Memang, beberapa di antara puluhan perguruan tinggi di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Blora sudah ada yang mempunyai website, tapi space penuangan gagasan dan ide-ide tentang penguraian problem realitas masih jauh dari kata cukup. Dampaknya, kemampuan menulis kurang terasah.
Ketiga, terjebak rutinitas. Alasan ini sebenarnya tak terlalu krusial, karena pada dasarnya semua pengajar perguruan tinggi mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Akan tetapi, faktanya mayoritas dari mereka enggan menulis. Meskipun, basis menulis, dalam hal ini data, sudah mereka lakukan, misalnya sering mengadakan penelitian.
Disparitas intelektual antara kota-kota besar dengan kota pinggiran ini sudah seharusnya segera ditangani. Pembenahan internal (dari dalam) mendesak dilakukan oleh perguruan tinggi masing-masing. Memberikan ruang aktualisasi (jurnal) yang berlebih dan ditangani secara serius, merupakan opsi yang paling rasional dan relevan.
Sedangkan pembenahan dari eksternal (luar), menjadi tanggung jawab para pengampu kebijakan, semisal Kementerian Pendidikan Nasional, Dinas P dan K Jatim, dan pemkab masing-masing agar dapat mempercepat pematangan dan penciptaan intelektual organik ini dengan berbagai langkah strategis. Berbagai kegiatan yang berbasis capacity building (peningkatan kapasitas) mutlak dibutuhkan.
Langkah-langkah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak cara yang bisa dilakukan agar kampus di empat kabupaten tersebut dapat menjadi seperti yang diinginkan Pramoedya Ananta Toer, sebagaimana prolog artikel ini. Tanpa menulis (di buku maupun di media massa) manusia akan ditelan sejarah, sepintar apapun dia. Karena pada dasarnya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. (*)

Bawah Titian, 8 Maret 2010

*) Tayang di Harian Radar Bojonegoro Halaman 38 Edisi Minggu, 14 Maret 2010.